Target Kemtan 2018: Swasembada Kedelai dan Bawang Putih

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan instansi terkait menutup kunci gembok bagian belakang truk kontainer berisi bawang merah yang akan diekspor ke Thailand saat hendak diberangkatkan dari Brebes, Jawa Tengah pada Jumat 18 Agustus 2017 (Suara Pembaruan/Carlos Roy Fajarta)

Oleh: Carlos Roy Fajarta / FMB | Jumat, 18 Agustus 2017 | 13:39 WIB

Brebes - Kementerian Pertanian (Kemtan) menargetkan untuk mencapai swasembada dua jenis komoditas pangan yakni kedelai dan bawang putih pada tahun 2018 mendatang.

Selain itu, Kemtan juga sudah mengembangkan visi jangka panjang untuk menjadikan Indonesia sebagai penguasa rempah-rempah dengan menjadi produsen nomor satu kopi, lada, cengkeh, dan pala pada tahun 2045.

Hal itu disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman usai melepas ekspor 5.600 ton bawang merah di Gudang CMG, Brebes, Jawa Tengah pada Jumat (18/8).

"Tahun 2018 dan 2019 ada agenda swasembada dua jenis komoditas yakni kedelai dan bawang putih. Apalagi bawang putih hanya butuh 60.000 hektar lahan saja. Saya yakin tahun depan sudah bisa kita tidak impor lagi," ujar Andi Amran.

Luas lahan 60.000 hektar dikatakan oleh Mentan dapat dengan mudah dipenuhi bila dibandingkan dengan komoditas padi dan jagung yang membutuhkan lahan seluas 21 juta hektar.

"Mimpi terakhir adalah, sesuai instruksi Presiden Jokowi, saya juga sudah menghadap Pak Menko Ekonomi Darmin Nasution untuk mengembalikan kejayaan Indonesia pada abad ke-15 lalu di produksi rempah-rempah," tambah Andi.

Ia masih meyakini paham siapa yang menguasai rempah-rempah akan menjadi pengendali perdagangan komoditas pangan dunia nantinya.

"Lada kita kualitas nomor satu di dunia, kopi keempat dunia. Ada empat komoditas yakni kopi, lada, cengkeh, dan pala. Pendapatan per hektar bisa mencapai Rp 200 juta tapi kita masih harus perbaiki produktivitas lahan," lanjutnya.

Jika masyarakat dan pemerintahan mendukung kebijakan itu, maka pada tahun 2045 mendatang Indonesia sudah menjadi lumbung pangan dunia.

"Dulu harga cabai Rp 160.000/kg turun menjadi 40.000/kg karena bapak Polisi. Ampuh sekali penetapan enam tersangka yang diamankan saat itu. TNI bergerak di desa, dengan kehadiran Babinsa, cetak sawah naik 500 persen. Dirjen kami dari 16 sekarang jadi 25, tambahan dari Kementerian Perdagangan. Visi kita visi presiden, bukan visi menteri. Egoisme sektoral kita buang," tutup Menteri Pertanian.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT