Bermental Pejuang

Stephanus Paulus Lumintang. (MI/Uthan Rachim)

Oleh: Tri Listiyarini / AB | Sabtu, 8 Juli 2017 | 08:33 WIB

Stephanus Paulus Lumintang tumbuh besar di keluarga sederhana di Manado. Tidak ada istilah bangun siang dan berleha-leha baginya. Pada usia 9 tahun, Paulus sudah mahir berbelanja ke pasar tradisional untuk menawar dan membeli bahan baku kue seperti diminta orangtuanya. Sebelum pergi ke sekolah, Paulus juga harus terlebih dahulu memasarkan kue buatan orangtuanya tersebut. Hasilnya, saat kelas lima SD, Paulus sudah mampu membeli sepeda dengan uang sendiri.

Berkat didikan orangtuanya itulah, Paulus yang kini menduduki posisi nomor satu di PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) menuai hikmah. Setiap fase kehidupan dijalaninya dengan mental pejuang.

“Karena orangtua saya, saya tumbuh dengan mental pejuang. Segala sesuatu yang kita peroleh tidak begitu saja bisa kita dapatkan. Kita tidak mungkin mendapatkannya kalau tanpa perjuangan. Hasil yang kita peroleh pun menjadi lebih langgeng,” kata Paulus di Jakarta, baru-baru ini.

Sikap mental itulah yang diterapkan pria kelahiran 4 Juni 1971 tersebut dalam memimpin BBJ yang juga disebut Jakarta Futures Exchange (JFX). Paulus ingin memajukan BBJ agar dipandang dunia seperti bursa- bursa komoditas di luar negeri. Tentu saja itu tidak mudah, mengingat saat ini masih banyak pihak di Indonesia yang belum melek BBJ. Berikut wawancaranya.

Bisa diceritakan perjalanan karier Anda?
Saya lahir di Tegal, besar di Manado sampai lulus sarjana strata satu (S-1)pada 1993. Baru kemudian saya mengadu nasib ke Jakarta, bekerja di perusahaan garmen asal Korea. Di perusahaan garmen tidak lama. Saya berpikir, kalau di sini terus, saya susah maju. Akhirnya saya banting setir masuk dunia perbankan.

Saya mengikuti management development programme, jalur cepat untuk berkarier di dunia perbankan. Saya banyak berkecimpung di bidang yang cukup prestise kala itu, yakni credit analyst dan credit reviewer. Saat berkarier di dunia perbankan itulah, saya yang dulu merasa terpaksa saat diminta orangtua kuliah S-1. Saya berpikir akan melanjutkan S-2 di Amerika Serikat (AS) dengan biaya dari keringat sendiri. Namun karena biaya yang terkumpul terbatas, saya akhirnya kuliah S-2 di Filipina.

Tiga hari sekembali dari Filipina, Indonesia dilanda krisis moneter (krismon), lalu terjadi kerusuhan, banyak perusahaan kolaps. Saya juga sudah resign dari bank tempat terakhir saya bekerja. Saat itu, saya hanya pegang uang Rp 250.000, sempat terbersit untuk pergi ke AS karena rumah saja saya tidak punya.

Tetapi saat itu saya sudah berjanji untuk menikahi calon istri saya. Akhirnya saya batal pergi ke AS. Beruntungnya, saat itu saya bertemu bekas teman kantor. Saya bilang, kalau ada pekerjaan bagi-bagi dong. Dari situ, saya mulai jual beli dolar AS, perdagangan fisik. Dari situ saya tahu apa itu jual-beli spread, termasuk forward sampai minggu depan. Waktu itu saya mulai mengarah ke futures, tapi dalam bentuk forex khusus dolar AS. Belajar menganalisis, tidak selalu tepat, tidak selalu dapat profit.

Lalu, saya punya kesempatan belajar komoditas di PT Gunung Lintong, mulai dari kopi, kakao, kayu manis, lada putih, lada hitam, jahe, hingga sedikit sayuran, semuanya fisik. Ada harga, bayar, dapat barang, lalu kita jual. Saat itu, saya masih buta futures trading. Baru kemudian keluar Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi dan mulai terbersit membuat bursa berjangka. Kebetulan, Gunung Lintong adalah salah satu perusahaan eksportir kopi di bawah Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), salah satu motor berdirinya BBJ.

Karena itu, saya mulai ikut pertemuan-pertemuan sebelum BBJ terbentuk. Hanya saja, pada 2000 banyak perusahaan masuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Ada beberapa eksportir yang kegiatannya mandek. Saya pun memilih banting setir masuk lagi ke dunia perbankan. Baru akhir 2008, saya tinggalkan dunia perbankan dan masuk BBJ secara operasional. Jadi, sebelum masuk BBJ, saya berkutat di industri perbankan.

Jadi, Anda sudah paham komoditas sebelum masuk BBJ?
Ada basic experience. Hanya saja, futures exchange ini sebuah perusahaan yang complicated karena banyak regulasi yang mengatur membership. Tetap ada hal-hal yang harus kita pelajari di BBJ. Sebenarnya, saat SMA di Manado, saya juga sudah belajar komoditas dari famili, yakni jual-beli fisik cengkih, lalu kopra, beli, lalu bayar, dan bawa.

Saat itu saya beruntung teman-teman saya kebanyakan pengusaha atau orangtuanya pengusaha dan pedagang. Jadi, saya lebih gampang mendapatkan network. Waktu itu, saya sama sekali belum punya pandangan mengenai futures trading, hanya ada uang ada barang dan utang piutang, istilahnya harga spot atau harga fisik.

Jadi, saat SMA, saya sudah tidak heran dengan uang ratusan, bahkan miliaran. Saya sudah mengetahui dan memahami tata cara menghitung uang dan mengambil uang di bank.

Apa yang paling menarik dari industri komoditas?
Yang paling menarik adalah needs yang terbentuk karena adanya demand and supply. Baik di perdagangan fisik maupun futures, pasti ada demand and supply. Kalau demand ada, supply tidak ada, lain cerita. Supply banyak, tetapi demand tidak ada, maka lain lagi ceritanya. Itu adalah sebuah eksistensi dari perputaran dunia usaha, di mana pun itu ada demand and supply.

Kalau barang itu adalah output sebuah proses produksi, perdagangan komoditas ini lebih banyak ke jasa. Berarti bagaimana kita belajar melakukan pelayanan, memenuhi kebutuhan pasar, menganalisis dan mengevaluasi apa yang perlu kita lakukan di bursa untuk pertumbuhan ekonomi, pelaku usaha, dan tentunya bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Apa saja kunci sukses Anda?
Pertama, harus bermental pejuang, ini penting untuk menghadapi masa-masa sulit. Saya memang tidak lahir di karpet merah, orangtua saya sangat sederhana, pembuat kue di Manado. Segala sesuatu yang kita peroleh tidak begitu saja bisa kita dapatkan. Orangtua saya mengajarkan, pukul 03.30 WIB harus sudah ke pasar membeli bahan kue, sebelum sekolah membuat kue, dan kemudian memasarkannya. Di kelas lima SD, saya sudah bisa memiliki sepeda dengan uang saya sendiri, saya bayar dengan mencicil dari teman saya.

Kedua, selalu disiplin. Dengan disiplin waktu, kita enggak perlu overtime, kita bisa lebih cepat berkumpul dengan keluarga, time management. Disiplin dalam mengelola kerja maka kita tidak perlu overloaded work, kita ada waktu tersisa untuk bercengkerama dengan keluarga atau beribadah atau bersosialisasi demi terbentuknya sebuah network dan komunitas. Dalam pandangan saya, kalau ingin menjadi orang yang berhasil maka kita tidak bisa selalu berharap dari kekuatan orang lain, kekuatan terbesar itu ada pada diri sendiri, kekuatan kita bisa dari displin itu.

Ketiga, kejujuran. Ilmu bisa dipelajari, kejujuran itu sulit dibentuk. Kita harus jujur dalam melakukan setiap tindakan kita, apa pun itu kejujuran paling utama.

Keempat, selalu belajar. Saya punya sebuah hipotesis bahwa kalau kita mau belajar atau mau jadi sukses, maka kita harus belajar pada orang sukses, apa yang kita pelajari dari orang sukses. Bukan cara mencapai sukses, tetapi bagaimana saat dia gagal mampu berdiri kembali.

Strategi Anda dalam memajukan BBJ?
BBJ itu ibaratnya mempunyai menu utama dan sampingan. Menu utama BBJ adalah kontrak multilateral yang saat ini belum mencapai harapan, baik oleh kami sendiri maupun pemerintah. Kami masih dalam proses mencapai tujuan (journey).

Ini tidak mudah. Pertama, para pelaku komoditas di Indonesia tidak sepenuhnya percaya market di Indonesia. Kedua, market kita belum terbentuk sebagaimana yang kita harapkan karena kesadaran dan skill pelaku belum maksimal untuk memberdayakan kontrak multilateral yang ada di Indonesia, khususnya di BBJ. Ketiga, supporting regulation juga perlu diatur, tidak hanya dari bursa, tetapi juga dari pemerintah. Di semua dunia bisnis, regulasi itu penting untuk mendukung agar operasional perusahaan tertentu bisa berjalan.

Permasalahan di atas perlu benar-benar dibenahi agar BBJ berkembang. Kita sekarang sudah berdiri. Tujuan kita tidak sekadar berdiri, tetapi harus bertumbuh dan berkembang. Kami tidak hanya bekerja untuk di Indonesia. Kita juga harus seperti bursa-bursa di luar negeri yang dipandang dunia, tidak hanya di negara sendiri. Cita-cita kami adalah BBJ juga harus dipandang dunia. Tujuan kami memajukan BBJ tidak hanya untuk BBJ saja, tetapi untuk Indonesia.

Strategi yang kami lakukan sekarang adalah banyak melakukan sosialisasi. Dalam pengalokasian anggaran di BBJ, lebih dari 20 persen untuk sosialisasi dan edukasi. Sosialisasi dilakukan kepada member, pelaku usaha fisik secara langsung, dan seluruh khalayak masyarakat, baik investor maupun investor potensial ataupun masyarakat umum lainnya supaya melek adanya futures industry di Indonesia.

Untuk edukasi, kami lebih giat melakukannya kepada dunia civitas academica atau kampus. Kalau kita mau edukasi ke masyarakat seluruh Indonesia saat ini impossible. Di dunia kampus itu tidak hanya mahasiswa, bahkan ke dosennya, karena dosen juga belum tentu tahu. Jangankan dosen, para pelaku bisnis sendiri pun tidak tahu ada futures exchange. Itu tantangan yang harus kami hadapi.

Seperti apa gaya kepemimpinan Anda?
Leadership style yang saya terapkan di BBJ lebih banyak seperti military. Ini mungkin karena saya orangnya mengutamakan disiplin. Militer itu identik dengan disiplin. Waktu adalah raja, harus tepat waktu, serta punya target dan strategi. Memiliki sikap humanis, tetapi ketegasan tetap utama.

Sebagai leader, dalam melakukan manajemen tergantung karakter. Saya sudah terbiasa dididik keras dan tegas. Saat ini saya merasakan hikmahnya. Bagi saya, pohon itu tidak sekejap bisa berbuah, ada proses, kalau bibit kita tanam dengan baik, kita pupuk dengan baik, pasti buahnya akan baik. Jadi, saya tanamkan hal ini ke teman-teman di sini. Leadership saya berdisiplin tinggi dan target oriented. Waktu bagi saya adalah segalanya karena waktu tidak mungkin pernah kembali.

Saya menerapkan reward and punishment. Kalau ada target yang tidak tercapai, tentu ada punishment, itu risiko. Makanya kami punya KPI (key performance indicator). Kalau memang achievement, kurang maka adjustment atau apresiasi yang diberikan berbeda. Tetapi saya seobjektif mungkin selalu menyampaikan bahwa mari bekerja bersama, mari maju bersama. Caranya, mari berkontribusi dan berintegritas yang baik.

Memang ritme setiap perusahaan dan kulturnya tidak sama, tetapi saya selalu transparan dan terbuka di semua level. Bagi yang mau ketemu saya, selama saya ada waktu, kapan pun semua level mau bertukar pikiran, saya siap. Saya sendiri terkadang kalau melihat orang yang lebih senior dari saya, saya tidak sungkan bertanya, tidak perlu malu.

Obsesi yang belum Anda capai?
Kalau di karier, sepertinya saya sudah telanjur cinta BBJ, saya sudah tidak ada niat pindah ke lain hati. Saya sadar usia saya bukan lagi yang bisa berpindah lebih mudah. Saat saya berumur 50 atau mendekati 60, itu juga waktunya bagi saya menyerahkan tongkat estafet ke generasi yang lebih mudah. Tidak boleh kita pegang terus karena anak-anak muda sekarang sudah luar biasa majunya.

Yang penting, kita atau saya sudah tanamkan sebuah prinsip atau idealisme yang baik untuk dilanjutkan dan dikembangkan sesuai perkembangan zaman. Kita tidak bisa berada di pucuk pimpinan terus, apalagi di sini kita punya batasan waktu, maksimal dua termin, dua kali lima tahun.

Nah, dalam pandangan saya, ketika termin pertama saya berakhir pada 2020 setidaknya saya akan menegakkan BBJ pada tempatnya. Saya akan mendudukkan BBJ yang sesungguhnya. Saya akan menyehatkan dari segala aspek, terutama sumber daya manusia, sistem, dan keuangannya, sehingga BBJ bisa berdiri tegak.

Apa filosofi hidup Anda?
Filosofi saya mengalir saja. Pokoknya saya berusaha berbuat baik. Setiap memulai sesuatu, maka saya akan mengerjakannya sampai selesai dan penuh tanggung jawab. Kalau ingin mengejar sesuatu maka akan saya kejar. Kalau saya punya cita-cita maka saya ada sedikit berambisi untuk mendapatkannya. Otak saya akan bekerja bagaimana mendapatkannya dengan cara yang pantas dan jujur. Dan sebagai orang beriman, saya harus beribadah.

Saya masih memiliki satu filosofi lagi, the power of giving. Melalui ini, segala macam kesulitan pasti ada jalan keluar. The power of giving itu sangat luar biasa, intangible, very powerfull. Dalam benak saya, the power of giving saya aplikasikan dengan saya saving baru consumption, bukan dari consumption baru saya saving.

Seperti saat saya ingin sekolah ke luar negeri, setiap gajian saya beli US$ 100, dapat tunjangan hari raya (THR) atau bonus semuanya saya belikan dolar AS. Saya menabung dulu baru menghabiskan sisanya, bukan sisa dari hidup baru menabung. Jika ada lebih simpan lagi, kalau enggak ada lebih harus pas. Sampai sekarang, itu saya lakukan.

Dengan berkembangnya saya secara materi, secara kedewasaan, selain saving saya menyisihkan juga rezeki buat orang yang tidak seberuntung saya sebelum saya konsumsi. Ini saya ajarkan ke staf-staf saya.

Bagaimana Anda menyeimbangkan karier dan keluarga?
Saya memisahkan urusan keluarga dan kantor. Saya tidak pernah membawa urusan kantor ke dalam keluarga dan saya tidak pernah membawa urusan keluarga ke dalam kantor. Saya tidak bisa mungkiri bahwa 75 persen waktu dan otak saya buat perusahaan ini (BBJ), mungkin 20 persen buat keluarga, dan 5 persen buat yang lain-lain, seperti sosialisasi dengan teman-teman.

Menurut saya, sosialisasi juga penting. Saya tidak hanya berteman dengan teman-teman di industri ini, tetapi juga di perbankan atau asuransi, siapa tahu suatu saat bisa berkolaborasi. Dengan kondisi seperti itu, saya berusaha semaksimal mungkin buat liburan dengan keluarga setahun sekali, itu pun harus mengikuti waktu anak saya, bukan anak saya yang mengikuti waktu saya. Yang penting seimbang dan saling mendukung.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT