Budi Yanto Lusli

Percaya pada Orang Lain, Yakinkan Diri Sendiri

Budi Yanto Lusli. (MI/Uthan Rachim)

Oleh: Laila Ramdhini / AB | Senin, 31 Juli 2017 | 12:22 WIB

Mengawali karier sebagai pekerja di beberapa perusahaan pengembang, Budi Yanto Lusli kemudian tertarik untuk menyelami bisnis properti. Tanpa modal lahan, Budi memulai bisnis properti dengan menjadi konsultan dan melakukan jual beli properti yang sudah jadi.

Pria kelahiran 29 Desember 1965 ini akhirnya jatuh cinta kepada sektor properti. Salah satu alasannya, bisnis properti merupakan dunia yang menantang sekaligus menyenangkan.

“Bisnis ini mengandalkan kepercayaan dan keyakinan. Kita harus bisa percaya kepada orang lain, sekaligus harus mampu meyakinkan diri sendiri,” kata Budi di Jakarta, belum lama ini.

Soal kepercayaan dan keyakinan, Budi Yanto Lusli merasakan dan mengalaminya secara langsung. Bahkan, nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi pegangannya.

“Saya memulai pembangunan properti tanpa memiliki lahan. Namun, saya meyakinkan diri sendiri untuk bisa menggarap proyek di manapun,” tegas orang nomor satu di perusahaan pengembang properti PT Synthesis Karya Pratama (Synthesis Development) ini.

Budi ternyata tidak pernah bermimpi muluk-muluk tentang menjadi orang hebat. Baginya, apa yang sudah dicapai di Synthesis saat ini telah melampaui cita-citanya dulu. Berikut wawancara dengannya.

Bisa cerita perjalanan karier Anda?
Mulanya saya bekerja di perusahaan-perusahaan properti, dari menjadi orang lapangan sampai harus di kantor saja. Saya mengambil master di IPPM (Wijawiyata Manajemen) saat masih bekerja, sehingga biaya kuliah pun harus meminjam. Dengan bekerja di beberapa perusahan properti yang cukup besar dan stabil, saya berhasil menyelesaikan kuliah dan melunasi seluruh biayanya.

Pada awal 1993, saya lepas dari perusahaan, kemudian saya mendirikan perusahaan konsultan properti sendiri di Jakarta, yaitu Prolease. Kami fokus di pemasaran dan pengembangan shopping center. Beberapa proyek mal sudah kami tangani.

Secara total, kami menangani ruang shopping center hampir seluas 800.000 m2. Ini merupakan proyek studi, rancang bangunan, pemasaran, dan sebagainya. Saat itu, total shopping center yang ada di Indonesia saja hanya 500.000 m2. Artinya, kami menangani proyek-proyek yang baru akan digarap.

Tiba-tiba krisis moneter pecah pada 1998. Kami memiliki karyawan sekitar 500 orang. Dalam kondisi sulit tersebut, banyak developer yang menghilang dan tidak menyelesaikan kewajibannya untuk membayar kami sesuai kontrak.

Tetapi kami tetap optimistis karena karyawan harus diselamatkan. Akhirnya, kami mengubah bisnis dari yang tadinya melayani developer, kemudian berubah melayani penyewa atau pemakai ruang ritel yang besar.

Nah, karena langsung bersentuhan dengan pasar, kami mendapat banyak peluang. Tetapi kami tetap belum punya uang. Akhirnya kami membeli tanah sedikit demi sedikit atau sewa jangka panjang. Dari situ, proyek pertama kami dimulai, yaitu Graha Asia Work, yang berlokasi di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Kemudian, kami menginisiasi pembangunan Plaza Semanggi pada 1999. Kami memanfaatkan skema BOT (build, operating, transfer) dengan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) selama 30 tahun. Kami bermitra dengan banyak perusahaan besar, seperti Hari Darmawan Corporation, Agung Podomoro Group, dan Lippo Group.

Pada era krismon (krisis moneter) itu, enggak ada pengembang yang berani membangun proyek besar. Tetapi kami yakin dan sepakat untuk mengembangkan Plaza Semanggi.

Alasan Anda memilih industri properti?
Ilmu saya di teknik sipil masih bisa terpakai di sini (bisnis properti). Bisnis properti tidak terlepas dari bangunan dan erat kaitannya dengan teknik sipil. Meskipun tidak konsentrasi lagi ke engineering, saya tetap di management site. Saya bergelut di bidang properti sejak 1993. Saya memulainya dari bawah, sebagai profesional, hingga akhirnya menjadi pebisnis. Ini yang membuat saya menikmati bidang ini.

Apa rencana Anda untuk Synthesis Development?
Synthesis fokus membangun properti di kawasan central business district (CBD) dan sekitar Jakarta. Kami mengawali bisnis properti untuk hunian di kelas menengah ke bawah, seperti Kalibata City dan Bassura City. Sekarang kami mulai menyasar segmen menengah ke atas dan kelas atas, salah satu proyeknya, yaitu Samara di Synthesis Square.

Synthesis menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp 700 miliar. Anggaran tersebut akan digunakan untuk membangun properti berupa hunian vertikal, kawasan superblok, dan ruang perkantoran yang terpusat di Jakarta. Tetapi di luar itu, kami juga punya rencana go public dan melengkapi porsi pendapatan berkelanjutan (recurring income), termasuk di shopping center.

Proyek yang sedang digarap Synthesis saat ini?
Synthesis Development sedang mempersiapkan pembangunan Samara Suites. Apartemen ini berada di kawasan terpadu Synthesis Square dan dibangun untuk kelas atas (high-end). Kami mulai memasarkan Samara Suites di medio 2016 dan sudah berhasil terjual 70 persen dari keseluruhan 350 unit yang ada.

Kenaikan harganya cukup tinggi. Saat pertama diluncurkan, apartemen ini dijual seharga Rp 31 juta per m2. Sedangkan saat ini harganya menjadi Rp 37 juta per m2 atau seharga Rp 1,5 miliar sampai Rp 4 miliar.

Proyek Samara Suites akan kami mulai pertengahan tahun ini, targetnya selesai pada 2020. Selanjutnya, pembangunan perkantoran Synthesis Tower I di lokasi yang sama akan dibangun pada 2019 dan selesai pada 2020.

Proyek selanjutnya?
Kami melihat masih ada kebutuhan dan demand (permintaan) yang besar di daerah Jakarta, khususnya sekitar CBD area dan selatan Jakarta. Ini karena aksesibilitas dan potensi kenaikan harganya sangat tinggi. Seperti di Lebak Bulus yang dilalui mass rapid transit (MRT) dan di Kemang yang menjadi favorit karena masih asri.

Kami juga sedang menyiapkan dua proyek baru di Lebak Bulus dan Ciputat. Ini belum dirilis ke pasar. Saya memperkirakan gross development value (GDV) untuk proyek Lebak Bulus dan Ciputat mencapai Rp 3-4 triliun. Proyek ini akan menjadi terpadu, masing-masing bakal menyediakan hunian sebanyak 1.500 unit di Lebak Bulus dan 1.000 unit di Ciputat.

Untuk proyek di Lebak Bulus dan Ciputat, kami sedang mengurus perizinan. Kalau izinnya sudah siap, maka kami bisa mulai akhir tahun ini dan bisa selesai dalam empat tahun pembangunan.

Bagaimana Anda melihat peran pemerintah dalam mendukung sektor properti?
Dukungan pemerintah sudah luar biasa, terutama pemerintah pusat. Tetapi kami juga berharap pemerintah tegas. Di Pulau Jawa, misalnya, lahan yang bisa dibangun hunian sangat terbatas. Kalau berkaca pada Tiongkok, mereka sudah menerapkan pembangunan hunian vertikal, dari kota sampai pelosok. Mengingat krisis ketersediaan lahan, kami berharap pemerintah juga bisa "memaksa" pembangunan hunian vertikal di Jawa.

Nah, di sisi lain, pemerintah daerah (pemda) terkadang belum memiliki regulasi yang mendukung pembangunan properti, misalnya belum punya rencana tata ruang wilayah (RTRW). Kadang sudah punya pun mereka enggak tahu fungsinya untuk apa dan kalau melanggar apa konsekuensinya. Akibatnya, orang membangun di tanah persawahan pun diizinkan, sehingga lahan sawah berkurang.

Di DKI Jakarta, saya menilai peraturan pelaksanaan harus cepat dibereskan. Adapun di daerah, saya melihat harus ada pusat pelayanan terpadu dengan peraturan yang lebih jelas. Peraturan yang berlaku di setiap daerah harus sama supaya kami bisa bersaing di level playing field yang setara.

Pandangan Anda tentang kondisi pasar properti di Indonesia saat ini?
Sebenarnya secara keseluruhan, untuk housing (perumahan), terutama landed (rumah tapak), masih oke. Tetapi untuk office (ruang perkantoran), data menunjukkan di Jakarta sudah kelebihan pasok (over supply), sehingga tingkat hunian atau okupansi pun menurun. Sedangkan untuk ritel, pengembang memang harus sangat teliti membaca market. Di Jabodetabek, beberapa area tertentu masih bagus perkembangannya. Tetapi banyak juga area yang sudah penuh, seperti Thamrin, Senayan, dan Slipi.

Harapan Anda untuk sektor properti ke depan?
Tahun 2017, menurut perkiraan para praktisi dan pelaku bisnis properti, akan ada perbaikan. Kami yakin 2017 lebih baik dari 2016 karena faktor makro ekonomi lebih mendukung. Tetapi seberapa membaiknya, kami enggak tahu.

Kami berharap program amnesti pajak (tax amnesty) yang telah selesai, memberikan dampak positif kepada sektor properti di dalam negeri, meskipun sampai akhir 2016 dampaknya belum terasa ke sektor ini.

Yang kami khawatirkan juga setelah program tax amnesty adalah bagaimana pemerintah mengejar dana-dana repatriasi. Kami berharap jangan membabi-buta, karena hal itu justru akan membuat orang malah menutup diri. Harapan kami, aliran dana repatriasi bisa segera menuju sektor properti. Di sisi lain, kalau pertumbuhan ekonomi naik, kami berharap sektor properti otomatis naik.

Filosofi hidup Anda?
Do the best and let God do the rest. Kalau sudah bisa berjalan sejauh ini, saya percaya ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Jadi, lakukan yang terbaik dan biarkan Tuhan melakukan sisanya.

Kiat Anda mencapai kesuksesan?
Bisnis ini mengandalkan kepercayaan dan keyakinan. Saya harus bisa percaya kepada orang lain, sekaligus mampu meyakinkan diri sendiri. Saya memulai pembangunan properti dengan tidak memiliki lahan. Namun, saya meyakinkan diri sendiri untuk bisa menggarap proyek di mana pun.

Obsesi Anda yang belum tercapai?
Pencapaian ini sudah melebihi obsesi saya yang paling liar. Rasanya sekarang harus bersyukur saja. Sebab, kalau mau yang lebih terus-menerus, tentu susah. Tetapi kita juga harus open mind dalam arti menerima segala opportunity yang ada dan mengerjakan semua secara bertanggung jawab. Namun secara angka, sebelum menjadi perusahaan terbuka, kami belum punya arahan mau membesarkan perusahaan ini seperti apa.

Itu sebabnya, saya ingin perusahaan ini menjadi perusahaan terbuka dan sahamnya tercatat (listed company) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2018. Kami masih melihat momentum dan situasi, terutama yang terkait dengan kondisi ekonomi, sosial, dan politik.

Untuk mewujudkan mimpi ini, kami sedang berupaya untuk terus meningkatkan recurring income (pendapatan berkelanjutan) dari proyek-proyek Synthesis.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT