Warga Rusunawa Mengeluh Sulit Bayar Sewa Lewat Bank DKI

Rusunawa Kapuk Muara. (BeritaSatu Photo/Carlos Roy Fajarta)

Oleh: Lenny Tristia Tambun / CAH | Jumat, 11 Agustus 2017 | 15:37 WIB

Jakarta – Warga penghuni rumah susun sederhana sewa (rusunawa) mengeluhkan sulitnya membayar uang sewa melalui Bank DKI. Alasannya tidak ada outlet Bank DKI di rusunawa tempat mereka tinggal.

Kalau ingin menyetorkan uang ke rekening mereka di Bank DKI, mereka harus pergi ke kantor Kecamatan yang letaknya cukup jauh dari lokasi rusunawa. Sehingga mengakibatkan mereka kerap kali menunda menyetorkan uang. Padahal, pembayaran uang sewa dilakukan auto debet melalui rekening mereka di Bank DKI.

Seorang penghuni Rusunawa Cipinang Besar Selatan (Cibesel) yang menunggak lima bulan ini, Maswah, mengatakan selain penghasilan keluarganya sedang menurun setelah direlokasi dari Waduk Pluit, Jakarta Utara pada 2014 lalu, juga dikarenakan lokasi penyetoran uang yang cukup jauh menjadi kendala baginya untuk menyetor uang ke rekeningnya di Bank DKI.

“Kan banyarnya enggak penuh, tapi bisa dicicil kalau ada uang, ya seperti setor yang tabungan. Nah sekarang, untuk setor tabungannya jauh ke kecamatan, belum lagi antrinya. Jadi pergi setornya ditunda-tunda, eh uangnya kepakai untuk kebutuhan yang lain,” ungkap ibu empat anak ini.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Bisnis Bank DKI, Antonius Widodo Mulyono mengakui kantor cabang Bank DKI belum ada di 23 lokasi rusunawa yang tersebar di empat wilayah DKI Jakarta. Hingga saat ini, baru ada sekitar tujuh kantor cabang Bank DKI di tujuh rusunawa.

“Saya tidak hapal. Tapi salah satunya di Rusunawa Besakih dan Marunda. Jadi memang benar di 23 UPRS (Unit Pengelola Rusun) itu belum semua ada Bank DKI. Tapi saat ini mungkin sudah sekitar tujuh kantor,” kata Antonius di Balai Kota DKI, Jakarta, Jumat (11/8).

Untuk mengantisipasi keluhan warga tersebut, dalam jangka panjang ke depan, pihaknya akan membangun kantor cabang di seluruh rusunawa. Tetapi penambahan kantor cabang tersebut tidak bisa dilakukan secara serentak, melainkan secara bertahap.

“Ke depan kita akan terus tambah. Jadi tahun ini, sesuai dengan rencana bisnis Bank (RBB), kita akan menambah sekitar dua hingga empat kantor di UPRS tersebut,” ujarnya.

Ia menyadari salah satu penyebab adanya tunggakan uang sewa dari para penghuni, adalah mereka kesulitan menyetorkan uang mereka ke rekening yang ada di Bank DKI.

Sambil menunggu rencana itu terwujud, dalam jangka pendek ini, pihaknya akan mengoperasikan lima unit mobile branch office secara berkala ke rusunawa yang belum ada kantor cabang Bank DKI.

“Sampai nanti semua ada kantor, kita bantu dengan mobile branch. Sehingga warga rusun bisa dengan mudah melakukan setoran,” ungkapnya.

Cara lain untuk memudahkan warga penghuni menyetor uang ke rekening, lanjutnya, bisa saja melalui kantor-kantor Bank DKI di daerah lainnya. Karena sistem transaksi perbankan di Bank DKI sudah tersambung secara online.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT