Jonan Cerita Pentingnya Toleransi di Konferensi Umat Katolik

Ignasius Jonan. (B1/Primus Dorimulu)

Oleh: Yustinus Paat / CAH | Sabtu, 12 Agustus 2017 | 16:06 WIB

Jakarta - Menteri ESDM Ignatius Jonan menceritakan bagaimana pentingnya toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Jonan, sikap saling menghargai satu sama lain harus diwujudkan mulai dari keluarga sampai tempat kerja.

Hal ini diceritakan Jonan saat menjadi keynote speech dalam acara Konferensi Nasional Umat Katolik di Gedung Yustinus, Unika Atma Jaya, Jakarta, Sabtu (12/8).

"Istri saya beragama Katolik saat mengenal saya. Tetapi, banyak keluarganya beragama lain, termasuk agama Islam. Saya  bertemu dan mengobrol dengan mereka. Biasa saja," ujar Jonan.

Dia mengaku bahwa selama 29 tahun hidup berkeluarga tidak ada persingungan mengenai kepercayaan dengan keluarga sang istri. Kehidupan berjalan seadanya, karena saling menghormati.

Saat menjadi Menteri Perhubungan, kata Jonan, seorang stafnya sempat kaget dan penasaran karena dirinya berfoto dengan adik ipar yang mengenakan jilbab. Belakangan, staf tersebut tahu bahwa keluarga istri Jonan ternyata ada yang Muslim.

"Ya saya bilang nggak masalah, saya punya agama sendiri adik saya punya agama sendiri. Jadi nggak masalah, yang penting kita tidak memisahkan diri," cerita dia.

Di tempat kerja, Jonan juga berusaha menerapkan semangat toleransi antara umat beragama. Salah satunya, Jonan tidak membeda-bedakan antara pemeluk agama, termasuk pengisian jabatan.

Saat menjadi Menhub, Jonan mengaku tidak memilih-milih stafnya berdasarkan agama atau etnis tertentu. Dia memilih siapa yang berkompeten untuk menduduki jabatan tertentu.

"Saya orangnya berusaha untuk fair, dan saat pengabdian ke masyarakat juga saya fair. Saya bilang nggak penting itu (harus beragama tertentu), yang penting kerjanya gimana," tandas dia.

Jonan juga sempat menceritakan bagaimana kesediaan Menteri Pariwisata Arief Yahya yang mengikuti misa selama dua jam di Vatikan sebelum meresmikan paviliun Borobudur di Musium Etnologi Vatikan di kota Vatikan.

"Pak Arief minta ikut, kalau tak salah dua jam setengah dia duduk di sebelah saya. Dia (Arief) juga biasa saja, tidak ada yang membeda-bedakan secara fundamental," ungkap dia.

Saat itu, Jonan sudah menjabat Menteri ESDM dan ditugaskan menemani Menteri Arief Yahya ke kota Vatikan. "Waktu itu karena saya menteri beragama Katolik, atau orang Katolik yang ditugaskan menjadi menteri" ujar Jonan.

Jonan menjelaskan, setiap tahunnya pengunjung musium Etnologi Vatikan bisa mencapai 60 juta pengunjung, anggka tersebut lebih banyak dibandingan wisatawan asing yang memilih Indonesia sebagai tujuan pariwisata.

"Dengan adanya Paviliun Borobudur, diaharapan para wisatawan yang berkunjung di Museum Etnologi Vatikan bisa mengenal Indonesia. Namun sebelum peresmian, Arief juga ikut melaksanakan misa," pungkas dia.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT