Konfernas Umat Katolik Rekomendasikan 4 Poin ke UKP-PIP

Suasana Konferensi Nasional Umat Katolik Indonesia yang digelar di Universitas Atma Jaya, Jakarta, Sabtu 12 Agustus 2017. (B1/Primus Dorimulu)

Oleh: Yustinus Paat / AO | Sabtu, 12 Agustus 2017 | 21:26 WIB

Jakarta - Konferensi Nasional Umat Katolik yang diselenggarakan di Universitas Atma Jaya Jakarta, Sabtu (12/8), menghasilkan sejumlah pokok pemikiran. Di antara pemikiran itu adalah usulan kepada Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP).

Ketua Panitia Konfernas Umat Katolik Muliawan Mardagana mengatakan, ada empat poin terkait UKP-PIP. Usulan ini sebagai bagian dari kontribusi umat Katolik untuk memantapkan revitalisasi Pancasila. "Poin pertama, UKP-PIP seyogyanya bekerja secara sinkron dengan berbagai lembaga negara yang memiliki tugas pokok dan fungsi (tupoksi) melakukan kajian kebangsaan," ujar Mualiawan saat membacakan butir-butir hasil Konfernas.

Selain itu, katanya, Konfernas mengusulkan kerja sama dengan lembaga yang memiliki tupoksi mengembangkan studi tentang ideologi Pancasila. Sebagai lembaga yang muncul belakangan, kata dia, UKP-PIP perlu bersikap terbuka atas apa yang pernah dilakukan oleh lembaga lain.

"Poin kedua, setiap perguruan tinggi hendaknya memiliki pusat studi atau laboratorium Pancasila," tutur dia. Pusat studi ini, jelas dia, nanti bertugas mengeksplorasi, mengevaluasi, dan mencari visi baru pengembangan substansi dan metode pendidikan Pancasila.

Menurut dia, tanpa ada pengkajian ilmiah maupun kefilsafatan secara kontinyu, ideologi Pancasila dapat kehilangan aktualitasnya sehingga bisa ditinggalkan masyarakat. "Poin ketiga, mendorong upaya mengisahkan Pancasila melalui strategi seni dan budaya," tuturnya.

Kata Muliawan, Konfernas mengusulkan upaya mendarahdagingkan Pancasila melalui strategi seni dan budaya dapat dilakukan dengan berbagai gerakan multikultural, gelar budaya, dan kreativitas seni yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. "Upaya-upaya berbasis seni dan budaya sangat efektif untuk pembudayaan Pancasila menjadi suatu praksis sehari-hari," jelas dia.

Poin terakhir, setiap orang perlu secara bersama-sama membangun satu-dua program aksi menyangkut masalah kemasyarakatan dalam rangka pendidikan Pancasila. Karena itu, kata dia, perlu ada sikap proaktif melakukan aksi. "Agar efektif, ada lima hal yang perlu diperhatikan, yakni keteladanan atau modelling, terjadinya pembiasaan atau habituasi, pemotivasiaan banyak orang, konsistensi aksi, dan refleksi perihal manfaat yang diperoleh," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Konfernas Umat Katolik diselenggarkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dengan beberapa elemen katolik. Konfernas yang bertajuk "Revitalisasi Pancasila" itu dibuka oleh Sekretaris Jenderal KWI) Mgr Anton Bunjamin dengan pembicara kunci Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan.

Pemaparan materi dilakukan oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Menkominfo Rudiantara, dan Penggerak Gerakan Sosial Pancasila Bambang Ismawan. Sesi diskusi diisi oleh sejumlah narasumber, antara lain Staf Khusus Presiden Gories Mere, Ketua Dewan Pers Stanley A, Guru Besar Filsafat dari STF Driyarkara Franz Magnis Suseno, sejarawan Anhar Gonggong, peneliti senior CSIS J Kristiadi, sosiolog Ignas Kleden, Sekjen DPP Partai Demokrat Hinca Panjaitan, pakar hukum tata negara Koerniatmanto, dan Wakasad Letjen Hinsa Siburian.

Konfernas ini akhirnya ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Keagungan Ende yang juga menjabat Ketua Komisi Kerawam KWI, Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT