Ini Protes Bamusi ke MPR atas Doa Kontroversial Tifatul

Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Tifatul Sembiring, mendoakan agar berat badan Presiden Jokowi bertambah dan menghormati ulama. (beritasatu tv)

Oleh: Markus Junianto Sihaloho / WBP | Kamis, 17 Agustus 2017 | 19:38 WIB

Jakarta - Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) menilai pelaksanaan sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Tahun 2017 kemarin yang dipimpin Ketua MPR RI Zulkifli Hasan berlangsung khidmat. Namun sayang sidang ditutup dengan doa kontoroversial Tifatul Sembiring yang dinilai mengandung pelecehan terhadap Presiden Joko Widodo.

Sehubungan dengan itu, Ketua Umum Bamusi Hamka Haq mengatakan pihaknya sangat prihatin. Doa seyogyanya berisikan pujian dan penyucian keagungan Allah SWT, serta harapan kesejahteraan dan pengampunan dari rahmat-Nya. Seharusnya doa bersih dari rasa dengki dan perilaku tidak menyenangkan terhadap pihak tertentu. Apalagi jika ditujukan kepada seorang Presiden yang menjadi lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di samping itu, lanjutnya, lazimnya doa berisikan shalawat dan salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, serta sahabat Nabi, dan para hamba Allah. Maka sangat tidak patut jika doa diisi dengan ujaran yang sinis, bernada tidak senang terhadap sesama hamba Allah. "Apalagi terhadap seorang Presiden yang seharusnya dihormati oleh segenap warga Negara Indonesia," kata Hamka, Kamis (17/8).

Baitul Muslimin Indonesia dari pusat sampai ke daerah kata dia kecewa dan prihatin atas doa yang disampaikan Tifatul Sembiring pada Sidang Tahunan MPR. "(Pesannya) berisikan nuansa ketidaksenangan terhadap fisik Bapak Presiden Joko Widodo, yang kurus, suatu hal yang tidak pantas diucapkan seorang pembaca doa, yang diharapkan berhati bersih dan khusyuk dalam doanya," kata dia.

Sebagai seorang mantan presiden salah satu partai barasas Islam, Hamka menilai seharusnya Tifatul menerapkan nilai-nilai Islam tentang perlunya saling menghargai sesama manusia. Khususnya sesama muslim.

Pihaknya berharap, kiranya ke depan, pimpinan MPR, DPR dan DPD membuat aturan baku tentang materi doa kenegaraan yang dibaca di depan sidang sidang. "Perlu dipastikan tidak boleh lepas dari spirit kebangsaan, rasa kebersamaan, persatuan dan kesatuan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan," kata dia.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT