Belanja E-Commerce Rp 75 Triliun Setahun

Agus Martowardojo menyampaikan pidato pada seminar nasional tentang "big data". (Antara)

Oleh: Yosi Winosa / Tri Listiyarini / AB | Kamis, 10 Agustus 2017 | 10:07 WIB

Jakarta - Perdagangan secara elektronik (e-commerce) di Indonesia dalam setahun terakhir telah menembus US$ 5,6 miliar atau Rp 75 triliun. Sementara itu, ekonomi digital diproyeksikan mampu memberikan nilai tambah sebesar US$ 150 miliar pada 2025, dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sekitar 10 persen.

Revolusi digital diyakini akan membawa Indonesia pada lintasan pertumbuhan ekonomi sekitar 7 persen per tahun. Hal itu dimungkinkan karena digitalisasi perekonomian mampu meningkatkan efisiensi di berbagai sektor ekonomi berkat keputusan bisnis dan target yang lebih akurat, serta mendorong terciptanya inovasi baru. Semuanya itu berujung pada peningkatan produktivitas perekonomian secara signifikan.

Hal itu disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo dalam seminar nasional big data dengan tema ”Globalisasi Digital: Optimalisasi Pemanfaatan Big Data untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi” di Jakarta, Rabu (9/8).

“Saat ini, kita memasuki era revolusi digital, yang juga disebut sebagai revolusi industri keempat. Jika revolusi industri pertama ditandai dengan lahirnya mesin uap, revolusi kedua dengan munculnya elektrifikasi dan produksi massal, serta revolusi ketiga ditandai dengan munculnya teknologi internet, maka revolusi keempat adalah fase di mana hampir semua sendi kehidupan kita telah tersentuh layanan digital,” ucap Agus.

Di Indonesia, perkembangan ekonomi digital ini didukung banyaknya pengguna internet. Pada 2016, jumlah pengguna internet yang berbelanja secara online di Tanah Air telah mencapai 24,74 juta orang. Selama setahun terakhir, para pengguna internet membelanjakan uang sekitar US$ 5,6 miliar (sekitar Rp 75 triliun) di berbagai e-commerce. Dengan kata lain, setiap pengguna e-commerce di Indonesia rata-rata membelanjakan Rp 3 juta per tahun.

“Saat ini, layanan digital telah memengaruhi cara kita membuat keputusan, berinteraksi dengan orang lain, dan sekaligus mendorong munculnya model-model bisnis baru yang jauh lebih efisien dan inovatif," katanya. 

Menurut Agus, paling tidak terdapat tiga faktor utama pendorong gelombang revolusi digital. Pertama, perkembangan telepon seluler. Telepon seluler telah menjadi perangkat utama untuk mengakses internet. Mayoritas lalu lintas online dunia berasal dari perangkat tersebut.

Kedua, perkembangan internet of things (IoT). Pada 2016, hampir 18 miliar peranti berbasis internet telah saling terkoneksi, yang mengakibatkan terciptanya konsep-konsep inovatif, seperti smart homes.

Ketiga, adanya big data yang didukung oleh kemampuan komputer melakukan analisis yang kompleks (advance analytics). Tahun 2016, lalu lintas internet global setidaknya telah mencapai 1,2 zetabit atau 1,2 triliun gigabit, yang terutama dipicu oleh peningkatan tren penggunaan media sosial melalui perangkat gawai (gadget).

Pada 2013 saja, lanjut Agus, terdapat setidaknya 1,85 miliar pengguna aktif media sosial, yang terus meningkat menjadi 2,8 miliar pada 2016.

Agus menjelaskan aktivitas media sosial dan layanan digital yang makin meluas telah mendorong terciptanya data baru secara masif. Data yang berjumlah sangat besar, bervariasi, dan dihasilkan secara sangat cepat (real time) ini dikenal sebagai big data.

Disruptive Technologies
Ketiga faktor tersebut, kata Agus, merupakan bagian dari fenomena terobosan teknologi yang dikenal dengan nama disruptive technologies. Fenomena ini memperlihatkan terobosan teknologi mampu mengubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat.

Munculnya berbagai aplikasi sosial media misalnya, telah menyebabkan perubahan dalam cara manusia berinteraksi, e-commerce telah menggeser preferensi masyarakat dari berbelanja di pusat perbelanjaan menjadi belanja secara online, dan teknologi cloud computing telah mengubah metode penyimpanan data secara konvensional.

“Secara bersama-sama, disruptive technologies inilah yang menjadi motor penggerak utama bergulirnya revolusi digital secara global. Revolusi digital yang tak dapat dihindari ini juga telah melanda Indonesia,” tegasnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan perusahaan-perusahaan start-up berbasis digital luar biasa, baik di perdagangan barang dan jasa e-commerce, moda pembayaran, maupun pembiayaan. Aktivitas belanja online di Tanah Air tumbuh pesat, sejalan dengan keaktifan orang Indonesia di berbagai media sosial. Jakarta bahkan dikenal sebagai "Twitter capital of the world".

Fintech Player Meningkat
Selain e-commerce, lanjut Agus, revolusi digital di Indonesia telah menyentuh sektor keuangan. Hal ini antara lain terlihat dari jumlah fintech player di Indonesia yang dalam dua tahun terakhir (2015-2016) tumbuh pesat sebesar 78 persen.

“Meski demikian, sayangnya, kita masih belum optimal memanfaatkan potensi besar Indonesia dalam era digital ini. Hal itu antara lain karena penetrasi internet di Indonesia tergolong masih cukup rendah, sekitar 51 persen,” tuturnya.

Penetrasi itu masih jauh di bawah negara-negara tetangga, seperti Malaysia (71 persen) dan Thailand (67 persen), bahkan di negara maju seperti Inggris dan Jepang sudah mencapai di atas 90 persen. Tingkat penetrasi internet ini adalah rasio antara jumlah pengguna internet dan jumlah penduduk.

Persoalan utama yang menyebabkan belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital di Indonesia berasal dari kualitas layanan internet yang relatif masih tertinggal dibandingkan negara lain. Hambatan lain adalah pengeluaran investasi di bidang teknologi informasi (TI) yang juga relatif tertinggal dibanding negara lain.

Ia menjelaskan lebih lanjut, investasi TI di sektor-sektor utama pemberi kontribusi ke pertumbuhan ekonomi--seperti manufaktur dan pertambangan--juga relatif masih rendah. Sedangkan investasi yang sudah cukup tinggi tercatat di sektor tersier, seperti e-commerce dan fintech yang pada 2016 diperkirakan mencapai US$ 1,7 miliar.

“Apabila hambatan dalam pemanfaatan teknologi digital tersebut dapat diatasi, maka digitalisasi ekonomi bisa memberikan nilai tambah sebesar US$ 150 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2025 (sekitar 10 persen terhadap PDB). Ini juga dibarengi dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja, mencapai hampir 4 juta orang,” imbuhnya.

Tumbuh 50%
Dihubungi secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Aulia Ersyah Marinto menyatakan, fondasi yang dibuat pemerintah sudah cukup kuat untuk mendukung pertumbuhan industri e-commerce nasional. Ia memperkirakan terjadi pertumbuhan transaksi e-commerce sebesar 30-50 persen tahun ini. Namun, besaran transaksi e-commerce masih di bawah 2 persen dari total transaksi perdagangan konvensional (offline).

"Kami berharap, dengan fondasi kuat yang disiapkan pemerintah, pertumbuhan industri e-commerce ke depan semakin masif,” katanya. 

 

 




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT