Mempersiapkan Siswa dan Guru Menyambut Masa Baru
INDEX

BISNIS-27 509.396 (-2.72)   |   COMPOSITE 5822.94 (-12.46)   |   DBX 1088.19 (9.8)   |   I-GRADE 169.852 (-1.35)   |   IDX30 498.88 (-2.76)   |   IDX80 132.065 (-0.41)   |   IDXBUMN20 376.263 (-3.13)   |   IDXG30 135.508 (-0.99)   |   IDXHIDIV20 449.517 (-1.84)   |   IDXQ30 145.713 (-1.14)   |   IDXSMC-COM 252.052 (0.88)   |   IDXSMC-LIQ 309.347 (0.24)   |   IDXV30 130.911 (1.46)   |   INFOBANK15 993.498 (-9.24)   |   Investor33 428.541 (-2.51)   |   ISSI 170.173 (-0.26)   |   JII 616.286 (-0.48)   |   JII70 212.951 (-0.33)   |   KOMPAS100 1185.6 (-4.97)   |   LQ45 921.176 (-4.93)   |   MBX 1613.76 (-6.11)   |   MNC36 320.851 (-1.83)   |   PEFINDO25 318.369 (-4.14)   |   SMInfra18 296.861 (-1.08)   |   SRI-KEHATI 366.856 (-2.5)   |  

Mempersiapkan Siswa dan Guru Menyambut Masa Baru

Opini: Seto Mulyadi
Ketua Umum LPAI; Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

Rabu, 21 Oktober 2020 | 08:00 WIB

Apabila dilakukan pemeriksaan psikologis secara seksama, mungkin tidak sedikit anak-anak pada masa pandemi ini yang mengidap stres traumatis (traumatic stress). Penyebabnya beragam, mulai dari terpapar berita tentang kematian para pasien Covid-19 hingga kedukaan yang menimpa keluarga mereka.

Ketika stres traumatis yang berlangsung adalah disebabkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa anak-anak mengalami vicarious trauma. Anak-anak mengamati dan begitu menghayati pengalaman negatif yang dialami pihak lain, sampai-sampai anak pun terperosok ke dalam keterguncangan psikis yang setara.

Dampak Belajar Daring
Ada pula, dan perkiraan saya ini terjadi pada banyak anak, adalah stres traumatis akibat proses belajar jarak jauh secara daring. Duduk di depan layar monitor menuntut anak untuk studying, padahal anak-anak terbiasa bahkan secara kodrati lebih nyaman belajar melalui pendekatan learning.

Berbeda dengan belajar tatap muka di kelas, guru pun tidak kuasa untuk memperhatikan kemungkinan adanya siswa yang “tercecer” selama proses belajar daring itu berlangsung. Sementara target pembelajaran harus tetap tercapai.

Orang tua pun terkena getahnya. Betapa pun ada kesadaran bahwa orang tua harus mendampingi proses belajar anak, namun—sulit disangkal—orang tua tidak cukup menguasai pedagogi (metode mentransfer materi akademis kepada anak). Juga orang tua tidak memiliki kesiapan untuk secara tiba-tiba harus mengajarkan materi-materi yang faktanya juga tidak sepenuhnya berhasil disampaikan oleh para guru secara virtual.

Guru stres, orang tua kalut, anak-anak pun tumbang. Sah sudah, program belajar jarak jauh telah menjadi situasi yang berlangsung di luar kendali, jauh melampaui pengalaman sehari-hari. Situasi tersebut menyebabkan anak-anak merasa hidup mereka begitu tercekam dalam kebingungan, kesedihan, bahkan ketakutan. Ringkasnya, kegiatan belajar-mengajar bukannya menyenangkan, justru malah menyengsarakan.

Patut disayangkan bahwa, di masa pandemi ini, banyak guru lupa untuk memberikan penugasan kelompok kepada para siswa. Pelajaran ilmu pengetahuan, pendidikan karakter, dan ritual kebaikan patut diajarkan secara terus-menerus sebagai kegiatan individual. Bahkan, meskipun para siswa hadir bersamaan di kelas virtual, namun dapat dikatakan tidak ada interaksi sama sekali antarmereka.

Apa boleh buat, tanpa disadari, pembelajaran jarak jauh menegakkan sekat virtual yang justru sangat tebal. Padahal, interaksi dengan teman sebaya merupakan kebutuhan utama anak-anak.

Keberadaan teman sebaya tidak hanya menyenangkan, namun juga sesungguhnya dapat membangun ketangguhan antarsiswa. Misalnya, pada saat anak-anak berkonflik satu sama lain, situasi itu dapat mematangkan diri anak, merangsang mereka menemukan jalan keluar yang konstruktif dan sesuai dengan tingkat kematangan masing-masing.

Begitu pula kegiatan rekreasi bersama yang, sejak maraknya virus corona, praktis dihentikan tanpa batas waktu. Tidak ada lagi pekik ceria anak-anak yang bertamasya sekaligus mereguk ilmu baru bersama dengan teman-teman sekolah.

Ketika dorongan kodrati anak-anak terkesampingkan, pada saat yang sama dunia pendidikan boleh jadi justru merasakan “manfaat” besar dari program belajar yang dilangsungkan saat ini. Terutama, industri di bidang teknologi belajar menemukan momentum keemasannya di masa sulit ini.

Tersebarnya virus corona secara nyata menghasilkan efisiensi besar-besaran bagi penyelenggara sekolah. Pada tahun 2019 saja, investasi teknologi pendidikan di Amerika Serikat mencapai US$ 18,66 miliar. Teknologi pembelajaran tersebut meliputi aplikasi bahasa, tutorial virtual, perkakas video conferencing, dan peranti belajar daring. Diperkuat oleh wabah Covid-19, investasi bidang yang sama diperkirakan akan mencapai US$ 350 miliar pada tahun 2025.

Demikian pula dengan Ding Talk, aplikasi belajar jarak jauh buatan Ali Baba. Begitu pesatnya permintaan akan Ding Talk, Ali Baba “terpaksa” menambah 100.000 server baru dalam kurun dua jam.

Meskipun proses belajar di era modern seperti sekarang memang mengharuskan adanya teknologi, namun—sekali lagi—saya mengkhawatirkan adanya dimensi kehidupan anak-anak yang terkesampingkan dalam proses tumbuh kembang mereka. Bahkan, meskipun pemanfaatan teknologi belajar berbasis daring semakin intens diterapkan, sekian banyak studi menemukan gelagat kurang positif terkait kesiapan anak-anak untuk kembali menjalani rutinitas ke sekolah.

Youki Terada, peneliti dari George Lucas Educational Foundation, merangkum riset tentang hal tersebut. Bahwa, daya serap anak-anak pada mata pelajaran yang menuntut aktivitas membaca dan matematika ternyata mengalami penurunan.

Penanganan Psikologis Anak
Penyelenggaraan vaksinasi massal Covid-19 tampaknya akan dimulai tak berapa lama lagi. Anak-anak sudah sepatutnya menjadi kelompok usia yang diprioritaskan. Dari isu kesehatan fisik, yang selanjutnya perlu dipikirkan adalah kesehatan mental anak-anak. Bagaimana kondisi mereka saat kembali ke bangku sekolah, adalah persoalan yang patut diantisipasi sejak sekarang.

Memahami bahwa selama pandemi ini telah terjadi perlambatan dalam proses belajar siswa, sekolah barangkali akan tergoda untuk melakukan akselerasi sekencang-kencangnya agar para peserta didik dapat kembali mengikuti pelajaran dengan irama dan muatan seperti masa sebelum terjadinya wabah.

Betapa pun percepatan semacam itu dilatari iktikad baik, namun saya merisaukan praktik sedemikian rupa akan berdampak menyakitkan (abusive) terhadap anak-anak. Lebih lagi, apabila perkiraan saya—anak-anak menderita stres traumatis—menjadi kenyataan, maka tak pelak sekolah sepatutnya mendahulukan penanganan kondisi psikis siswa dibanding normalisasi kegiatan akademis.

Harapan saya ini memiliki dasar kuat, yakni karena kebanyakan masalah kesehatan mental bermula pada masa kanak-kanak, maka sungguh penting apabila intervensi dilakukan sedini mungkin. Apabila terabaikan, masalah-masalah mental anak-anak pun dapat mengarah ke kondisi kesehatan yang lebih serius lagi.

Alhasil, tantangan yang ingin saya ajukan ke—terutama—Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah, pertama, seberapa jauh sekolah (guru) akan memanfaatkan ruang-ruang belajar virtual untuk memantau kesehatan psikis siswa. Kedua, bagaimana para guru dapat dibekali pengetahuan dan keterampilan terkait pertolongan pertama pada masalah psikis siswa.

Ketiga, bagaimana aktivitas belajar berbasis daring tetap memfasilitasi perkembangan sosial anak-anak didik secara optimal. Keempat, seberapa jauh program-program pemanasan menyambut masa sekolah baru tetap diselenggarakan dengan cara-cara yang ramah anak. Dan terakhir, ini tidak kalah pentingnya, bagaimana negara juga memberikan perhatian serius pada kesehatan psikologis para guru.

Semoga.


BAGIKAN






TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS