Waspada Libur Panjang
INDEX

BISNIS-27 509.396 (-2.72)   |   COMPOSITE 5822.94 (-12.46)   |   DBX 1088.19 (9.8)   |   I-GRADE 169.852 (-1.35)   |   IDX30 498.88 (-2.76)   |   IDX80 132.065 (-0.41)   |   IDXBUMN20 376.263 (-3.13)   |   IDXG30 135.508 (-0.99)   |   IDXHIDIV20 449.517 (-1.84)   |   IDXQ30 145.713 (-1.14)   |   IDXSMC-COM 252.052 (0.88)   |   IDXSMC-LIQ 309.347 (0.24)   |   IDXV30 130.911 (1.46)   |   INFOBANK15 993.498 (-9.24)   |   Investor33 428.541 (-2.51)   |   ISSI 170.173 (-0.26)   |   JII 616.286 (-0.48)   |   JII70 212.951 (-0.33)   |   KOMPAS100 1185.6 (-4.97)   |   LQ45 921.176 (-4.93)   |   MBX 1613.76 (-6.11)   |   MNC36 320.851 (-1.83)   |   PEFINDO25 318.369 (-4.14)   |   SMInfra18 296.861 (-1.08)   |   SRI-KEHATI 366.856 (-2.5)   |  

Waspada Libur Panjang

Tajuk: Suara Pembaruan

Kamis, 22 Oktober 2020 | 08:00 WIB

Libur panjang pekan depan menjadi fokus perhatian pemerintah agar tidak terjadi ledakan kasus terinfeksi Covid-19. Belajar dari pengalaman sebelumnya, libur panjang selalu berbuah lonjakan kasus, lantaran perilaku warga yang mengabaikan protokol kesehatan saat bepergian ke tempat wisata memanfaatkan liburan.

Hal itulah yang membuat pemerintah jauh-jauh hari mengingatkan masyarakat agar bijak menghadapi libur panjang. Pemerintah telah menetapkan cuti bersama pada 28 dan 30 Oktober, berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 29 Oktober 2020. Diperkirakan, suasana libur cuti bersama tersebut berlanjut hingga 31 Oktober dan 1 November 2020 yang jatuh pada Sabtu dan Minggu. Dengan demikian, libur pada pekan depan sebanyak 5 hari.

Berdasarkan pengalaman, libur panjang terbukti berdampak pada kenaikan kasus positif Covid-19 secara nasional. Hal ini dipicu oleh terjadinya kerumunan warga yang mengunjungi berbagai lokasi wisata tanpa kepatuhan melaksanakan protokol kesehatan.

Pada libur panjang Idulfitri 22-25 Mei 2020 terjadi kenaikan jumlah kasus harian dan kumulatif mingguan sekitar 69-93% sampai dengan rentang waktu 10-14 hari berikutnya. Hal yang sama terjadi pada libur Hari Kemerdekaan RI yang berlanjut dengan peringatan Tahun Baru Hijriyah pada 20-23 Agustus, di mana terjadi kenaikan jumlah kasus harian dan kumulatif mingguan sebesar 58-118%. Selain itu, terjadi kenaikan absolut pada positivity rate atau hasil tes positif Covid-19 yang naik sampai 3,9% persen dalam dua minggu setelah libur panjang.

Kondisi tersebut tentu membuyarkan upaya pengendalian penyebaran Covid-19 yang dilakukan pemerintah. Tren penambahan kasus baru yang mulai melandai, dalam sekejap melonjak. Penularan pun meluas tak terkendali.

Tentu diperlukan upaya ekstra untuk mengembalikan ke tren sebelumnya. Bisa dibayangkan kerugian yang diderita masyarakat. Sebagai contoh, lonjakan kasus harian yang tak terkendali, memaksa pemerintah kembali membatasi aktivitas masyarakat. Ekonomi yang mulai menggeliat seketika kembali berhenti.

Tak hanya itu, lonjakan kasus juga menambah beban para tenaga medis yang menjadi benteng terakhir penanganan Covid-19. Para tenaga medis akhirnya kembali harus berhadapan dengan risiko besar terpapar. Risiko paling fatal, mereka harus kehilangan nyawa. Saat ini tercatat sedikitnya 130 dokter meninggal dunia akibat terpapar Covid-19 saat merawat pasien yang juga terpapar. Tentu sebuah kehilangan teramat besar bagi bangsa ini.

Hal itulah yang mendorong pemerintah selama seminggu terakhir menggencarkan kampanye agar masyarakat mewaspadai potensi penularan saat libur panjang pekan depan. Diharapkan dengan sosialisasi yang masif, masyarakat lebih bijak memanfaatkan cuti bersama tersebut dengan aktivitas yang tidak berisiko, misalnya, beristirahat di rumah bersama keluarga. Kalaupun memilih tetap bepergian, masyarakat tetap berdisiplin menjalankan protokol kesehatan, dengan menggunakan masker, menjaga jarak fisik dan menjauhi kerumunan, serta mencuci tangan lebih rajin di tempat yang dikunjungi.

Upaya pencegahan lain yang bisa dilakukan pemerintah adalah mewajibkan warga yang hendak bepergian untuk menjalani tes cepat (rapid test), misalnya, dua hari sebelum dimulainya cuti bersama. Rapid test bisa dilakukan di komunitas terkecil, seperti di tingkat RT. Konsekuensinya, pemerintah wajib memfasilitasi rapid test dengan menerjunkan tenaga kesehatan. Jika hasil tes cepatnya reaktif, yang bersangkutan dilarang bepergian.

Langkah proaktif ini bisa dipertimbangkan sebagai antipasti warga yang terpapar Covid-19 menularkan ke banyak orang saat berada di tempat wisata. Mereka yang tidak reaktif pun tetap wajib menerapkan protokol kesehatan selama bepergian. Untuk itu, pengawasan dan penegakan disiplin oleh aparat di destinasi wisata menjadi keharusan.

Upaya lain, masyarakat diminta untuk mencermati apakah lokasi yang hendak dikunjungi termasuk zona merah penyebaran Covid-19 atau tidak. Jika zona merah, warga sebaiknya mengurungkan rencananya. Langkah ini sekaligus mengedukasi masyarakat, agar terbiasa mencari informasi terkini mengenai perkembangan penyebaran Covid-19, sebagai dasar mengambil keputusan.

Dengan semua langkah tersebut, kita berharap kasus Covid-19 di Tanah Air tetap terkendali. Di sisi lain, masyarakat bisa menikmati libur panjang untuk beraktivitas secara sehat dan bertanggung jawab.


BAGIKAN




BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS