Membayangkan Indonesia Masa Depan
INDEX

BISNIS-27 437.928 (-6.4)   |   COMPOSITE 4945.79 (-39.24)   |   DBX 931.257 (3.24)   |   I-GRADE 131.318 (-1.79)   |   IDX30 415.488 (-6.92)   |   IDX80 108.562 (-1.33)   |   IDXBUMN20 273.68 (-2.25)   |   IDXG30 115.596 (-1.18)   |   IDXHIDIV20 371.558 (-6.96)   |   IDXQ30 121.636 (-2.04)   |   IDXSMC-COM 210.245 (0.19)   |   IDXSMC-LIQ 235.867 (0.2)   |   IDXV30 102.795 (-1.19)   |   INFOBANK15 787.375 (-15.3)   |   Investor33 363.773 (-5.92)   |   ISSI 144.695 (-0.44)   |   JII 523.846 (-2.73)   |   JII70 177.783 (-0.58)   |   KOMPAS100 971.12 (-10.68)   |   LQ45 760.321 (-10.32)   |   MBX 1369.12 (-13.17)   |   MNC36 271.592 (-3.83)   |   PEFINDO25 259.811 (2.03)   |   SMInfra18 233.526 (-0.76)   |   SRI-KEHATI 306.747 (-5.09)   |  

Membayangkan Indonesia Masa Depan

Opini: Eko Sulistyo
Sejarawan dan Deputi Kantor Staf Presiden (2015-2019)

Senin, 16 Desember 2019 | 15:30 WIB

Tidak banyak orang tahu bahwa setiap tanggal 14 Desember, atau pada Sabtu pekan lalu, diperingati sebagai Hari Sejarah di Indonesia sejak tahun 2016. Pemilihan tanggal 14 Desember didasarkan pada Seminar Sejarah Nasional I yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 14-19 Desember 1957. Seminar ini merupakan refleksi semangat dekolonisasi sejarah bangsa dengan menekankan perspektif orang Indonesia.

Dalam alam revolusi kemerdekaan, penulisan, metode dan filosofi sejarah harus disesuaikan dengan manusia dan bangsa merdeka. Para sejarawan dan intelektual perlu mengubah paradigma sejarah Indonesia, tidak lagi ditulis dari atas geladak kapal atau benteng-benteng kolonial. Maka pelaksanaan Seminar Sejarah Nasional I tersebut dapat dianggap maklumat politik para sejarawan mengakhiri tradisi kolonial dalam historiografi Indonesia.

Pentingnya perspektif baru sebagai bangsa merdeka dari kolonialisme dalam penulisan sejarah terjadi karena; pertama, penulisan sejarah kolonialistik yang ditulis pada zaman Hindia Belanda tidak mengungkapkan dengan benar dan jujur situasi masyarakat Indonesia yang dinamis. Kepentingan dan prasangka kolonial melekat dalam historiografi kolonial. Kedua, perlunya penulisan dan filosofi nasionalistik atau Indonesia-sentris dalam penulisan sejarah, di mana bangsa Indonesia menjadi sentral dan pelaku utama, bukan sekadar sebagai rakyat jajahan yang ditaklukan.

Perkembangan Historiografi
Menurut sejarawan Dr Kuntowijoyo dari UGM, terdapat tiga tahap perkembangan historigrafi di Indonesia pascakemerdekaan (Asvi W Adam, 2004). Pertama, gelombang dekolonisasi sejarah, sebuah tuntutan bangsa yang baru merdeka agar juga berdaulat dalam sejarahnya. Tema ini menjadi sentral dalam Seminar Sejarah Nasional I di Yogyakarta pada tahun 1957. Para sejarawan yang diliputi semangat nasionalisme menghendaki perubahan pendekatan sejarah dari “Belanda-sentris” menjadi “Indonesia-sentris”.

Kedua, penggunaan ilmu-ilmu sosial dalam penulisan sejarah dalam Seminar Sejarah Nasional II di Yogyakarta pada tahun 1970. Ketiga, periode reformasi sejarah pasca Orde Baru, di mana penulisan sejarah Orde Baru ditinjau kembali melalui pelurusan sejarah. Para korban Orde Baru mulai menulis sejarahnya sendiri menjadi alternatif dari versi sejarah resmi negara.

Dari tiga pengalaman sejarah yang membentuk historigrafi nasional tersebut, peringatan Hari Sejarah sejak 2016 memulai pendekatan baru, yaitu mencari relevansi sejarah dengan situasi dan konteks masa kini. Dengan begitu pengetahuan sejarah tidak menjadi barang mati dari masa lalu, tapi menjadi nilai-nilai yang dicari relevansinya dengan kekinian.

Sejarah sebagai pengetahuan masa lalu, dalam pengajaran telah membuat sejarah menjadi hafalan yang menjemukan. Akibatnya, sejarah menjadi salah satu pelajaran yang membosankan di sekolah-sekolah. Persoalan ini menjadi persoalan serius karena sejarah bangsa berkaitan dengan identitas kebangsaan Indonesia yang semakin hari semakin tergerus modernisasi dan globalisasi.

Salah satu cara untuk mendekatkan sejarah adalah mencari relevansi dari peristiwa di masa lalu dengan kekinian. Artinya, harus diciptakan kontekstualisasi dari nilai-nilai dan pembelajaran dari masa lalu dengan tantangan dan kebutuhan masa kini. Pendekatan sejarah kontekstual menjadi relevan.

Dalam mencari relevansi antara masa lalu dan masa kini, maka sejak 2016, dalam rangka Peringatan Hari Sejarah pertama, mulai diangkat isu-isu yang relevan dan kontekstual. Pada tahun 2016, pemerintah Jokowi mulai memajukan kebijakan maritim untuk mempersatukan bangsa dan menyebarkan pembangunan ke pulau-pulau terluar dan daerah pinggiran perbatasan. Peringatan Hari Sejarah 2016 mengambil tema yang relevan dengan strategi pembangunan pemerintah, yakni “Budaya Bahari dan Dinamika Kehidupan Bangsa dalam Perpektif Sejarah.”

Pada Peringatan Hari Sejarah 2017, tema yang diangkat juga sangat relevan dengan tantangan kebangsaan yang sedang berlangsung, yakni “Sejarah untuk Kebhinekaan dan Keindonesiaan”. Kita tahu pada tahun 2016 ditandai dengan menguatnya politik identitas mengatasnamakan agama, yang memuncak dalam pertarungan Pilgub DKI Jakarta.

Pada tahun 2018, tema strategis yang juga dibicarakan adalah mencari “Paradigma dan Arah Baru Pendidikan Kesejarahan di Indonesia”. Tema ini sangat relevan dengan kemajuan teknologi informasi dimana sumber informasi dan akses pengetahuan yang menjadi rujukan generasi sekarang jauh lebih luas dibandingkan dengan generasi abad ke-20. Metode pengajaran sejarah harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan era internet saat ini.

Indonesia Hari Depan
Hari Sejarah pada 14 Desember tahun ini mengambil tema “Membayangkan Indonesia di Hari Depan.” Tema ini berarti mencari relevansi antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Artinya, apa yang sudah dicapai dimasa lalu dan masa kini, akan menjadi modal bangsa menuju masa depan.

Para pendiri bangsa di zaman penjajahan juga melakukan hal yang sama, membayangkan Indonesia masa depan setelah menjadi bangsa merdeka. Sekarang ini, masa depan adalah menuju Revolusi 4.0, sebuah revolusi industri tahap ke 4 yang akan mengubah banyak hal dalam relasi antar bangsa dan juga relasi manusia dengan mesin dan teknologi digital. Presiden Jokowi membayangkan Indonesia masa depan adalah menjadi negara maju, menjadi lima besar kekuatan ekonomi dunia. Karena itu, membangun sumber daya manusia (SDM) di masa kini menjadi fondasi yang akan dikerjakan menuju masa depan Indonesia menjadi negara maju.

Sebelum masa kini dan masa depan menjadi sejarah, persoalan sejarah haruslah dikembalikan pada nilai-nilai dan relevansinya bagi manusia di masa kini. Tanpa menarik relevansi sejarah, jangan salahkan generasi milenial dan masa depan akan menjadikan bangsa Indonesia sebagai negara maju tanpa identitas kebangsaan yang menghasilkan manusia-manusia global tanpa karakter.

Akhirnya, baru kita sadar relevansi ucapan Soekarno tentang masa kini dan masa depan bangsa yaitu “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Presiden pertama RI itu mengingatkan bahwa Indonesia sedang melewati periode genting dalam sejarah, sebuah periode yang menentukan arah masa depan bangsa Indonesia. Siapa yang mengabaikan sejarah akan gagal.


BAGIKAN




TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS