Akhir Pelarian Cai Changpan
INDEX

BISNIS-27 509.396 (-2.72)   |   COMPOSITE 5822.94 (-12.46)   |   DBX 1088.19 (9.8)   |   I-GRADE 169.852 (-1.35)   |   IDX30 498.88 (-2.76)   |   IDX80 132.065 (-0.41)   |   IDXBUMN20 376.263 (-3.13)   |   IDXG30 135.508 (-0.99)   |   IDXHIDIV20 449.517 (-1.84)   |   IDXQ30 145.713 (-1.14)   |   IDXSMC-COM 252.052 (0.88)   |   IDXSMC-LIQ 309.347 (0.24)   |   IDXV30 130.911 (1.46)   |   INFOBANK15 993.498 (-9.24)   |   Investor33 428.541 (-2.51)   |   ISSI 170.173 (-0.26)   |   JII 616.286 (-0.48)   |   JII70 212.951 (-0.33)   |   KOMPAS100 1185.6 (-4.97)   |   LQ45 921.176 (-4.93)   |   MBX 1613.76 (-6.11)   |   MNC36 320.851 (-1.83)   |   PEFINDO25 318.369 (-4.14)   |   SMInfra18 296.861 (-1.08)   |   SRI-KEHATI 366.856 (-2.5)   |  

Home > Fokus > Akhir Pelarian Cai Changpan

Akhir Pelarian Gembong Narkoba Cai Changpan

Minggu, 18 Oktober 2020 | 13:34 WIB
Oleh : Bayu Marhaenjati / Faisal Maliki Baskoro

Jakarta, Beritasatu.com - Gembong narkoba Cai Changpan alias Antoni (53) menjadi buah bibir masyarakat, sebulan belakangan ini. Narapidana yang telah divonis hukuman mati itu, melarikan diri dengan cara menggangsir ruang tahanan hingga tembus gorong-gorong di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Tangerang, Senin (14/9/2020) dini hari lalu.

Dia sempat pulang ke rumah dan bersembunyi di dalam Hutan Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Namun, 33 hari kemudian pelariannya berakhir. Jong Fan -panggilan Cai Changpan- menyerah dan nekat "mengeksekusi" dirinya sendiri dengan cara gantung diri, di pabrik pembakaran ban di hutan Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (17/10/2020) kemarin.

Mulanya, Cai Changpan dibekuk polisi terkait peredaran gelap narkotika jenis sabu-sabu, di Jalan Raya Prancis, Dadap, Kosambi, Tangerang, Banten, 26 Oktober 2016 silam. Ketika itu, penyidik menyita barang bukti sabu-sabu seberat 20 kilogram di dalam mobilnya.

Sejurus kemudian, polisi melakukan pengembangan dan menyasar ke gudang bekas pabrik vulkanisir ban di Kampung Panaragan, Maja, Kabupaten Lebak, Banten. Polisi kembali menyita sabu-sabu seberat 90 kilogram, 70 kilo di antaranya disembunyikan di balik mesin kompresor.

Tak berhenti, aparat kembali mengembangkan kasus dan didapati 25 kilogram sabu-sabu yang disimpan di salah satu rumah, di Desa Tegal Wangi, Jasinga, Kabupaten Bogor. Cai Changpan kemudian diproses hukum dan dijebloskan ke dalam penjara di Rutan Narkoba Bareskrim Polri, Cawang, Jakarta Timur. Di sini, dia memulai kisah pelariannya.

Cai Changpan bersama enam tahanan lain bernama Azizul alias Izul (30), Ridwan R alias Rambe (22), Anthony alias Ridwan (33), Amiruddin alias Amir (27), Ricky Felani alias Ruslan (30), dan Sukma Jaya alias Jaya (34), membobol tembok kamar mandi Rutan, dan melarikan diri, tanggal 24 April 2017 lalu.

Berdasarkan informasi, para tahanan itu melubangi tembok menggunakan batang besi dengan panjang sekitar 30 sentimeter. Setelah tembok jebol, mereka kabur dengan memanjat dinding setinggi 2,5 meter gedung Direktorat IV Bareskrim yang berdampingan dengan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Cawang, Jakarta Timur.

Empat hari kemudian, jejak pelarian Cai Changpan terendus anjing pelacak. Dia kembali ditangkap polisi ketika bersembunyi di kebun pisang, hutan lereng Gunung Wayang, Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Pria kelahiran Kota Fujian, Tiongkok, tahun 1967 itu akhirnya kembali dijebloskan ke hotel prodeo. Selanjutnya, penyidik memproses serta merampungkan berkas perkaranya, dan diserahkan ke kejaksaan.

Cai Changpan kemudian duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Tangerang. Kepada majelis hakim dia mengaku hanya disuruh bosnya bernama Ahong untuk mengedarkan sabu-sabu dengan upah Rp 4 juta setiap 1 kilogramnya.

Ketika itu, dia menyampaikan sudah tinggal di Indonesia selama 5 tahun sebagai pengusaha pabrik pembakaran ban. Cai pun menikahi perempuan asal Cilaku, Tenjo, Kabupaten Bogor, bernama Nurhayah pada tahun 2012 dan dikarunia seorang anak. Kemudian, dia sempat pulang ke Tiongkok dan kembali ke Indonesia untuk menjalankan bisnis narkotika itu.

Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Tangerang Nomor 385/Pid.Sus/2017, Cai Changpan akhirnya divonis bersalah dan dijatuhi hukuman mati karena terbukti menjalankan bisnis narkotika jenis sabu-sabu, pada 27 September 2017 lalu. Dia kemudian menghuni Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Tangerang, sambil menunggu eksekusi.

Pelarian Kedua
Tiga tahun berselang, kejaksaan belum juga mengeksekusi mati yang bersangkutan. Dalam kurun waktu yang cukup panjang itu Cai Changpan diduga mempelajari seluk beluk penjara dan kembali merencanakan untuk melarikan diri.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus mengatakan, Cai Changpan melarikan diri dengan cara menggangsir lantai ruang tahanan hingga tembus gorong-gorong di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Senin (14/9/2020) dini hari lalu.

Dia baru diketahui melarikan diri masuk ke dalam lubang galian dengan kedalaman sekitar 2 meter, panjang 30 meter dan keluar melalui saluran air, 11 jam kemudian. Pada rekaman kamera pengawas alias CCTV, dia terlihat melenggang santai menelusuri jalan di samping tembok Lapas Tangerang, setelah keluar dari saluran air itu.

Menurut keterangan saksi, Cai Changpan yang juga kerap dipanggali Antoni itu sempat mampir ke sebuah warung rokok sebelum beranjak ke kediaman yang ditinggali istri dan anaknya, di Cilaku, Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. "Diketahui bahwa yang bersangkutan setelah melarikan diri dalam waktu 4,5 jam, sudah sampai di kediamannya," ujar Yusri.

Polisi mendeteksi Cai Changpan sempat mampir ke rumah istrinya yang merupakan warga negara Indonesia, dengan menelusuri sinyal telepon genggam teman satu selnya yang dibawa kabur. Terakhir, handphone itu diserahkan Cai Changpan kepada anaknya.

"Dari mana bisa kita mengetahui, pada saat Cai Changpan melarikan diri dia sempat mengambil handphone teman sekamarnya. Tetapi sampai di kediamannya, handphone itu diserahkan kepada istri dan anaknya. Kita melakukan pendalaman, pemeriksaan terhadap istrinya, dan mengakui kalau Cai Changpan sempat mampir, kemudian melarikan diri masuk ke dalam hutan," ungkapnya.

Tim gabungan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Polres Kota Tangerang, dibantu Brimob Polda Metro Jaya dan anjing K-9 kemudian melacak keberadaan Cai Changpan ke dalam hutan. Jejak Cai Changpan sempat terdeteksi berada di salah satu desa di kawasan Tenjo, Kabupaten Bogor. Warga melihat seorang pria dengan ciri-ciri seperti yang bersangkutan membeli makanan, kemudian masuk kembali ke dalam hutan. Selain itu, dia juga sempat melaksanakan ibadah di salah satu pondok di dalam hutan.

"Cai Changpan itu sudah mualaf ya. Bahkan masuk di dalam itu ada tempat, di dalam hutan itu ada kayak rumah-rumahan, pondokan yang buat salat, sempat dia di situ, salat di situ. Ada beberapa barangnya yang tertinggal di situ," katanya.

Cai Changpan disebut Yusri merupakan mantan anggota militer Tiongkok dan memiliki kemampuan bertahan hidup di hutan. Sebelum berurusan dengan aparat berwajib, dia juga kerap berburu di hutan Tenjo sehingga sudah mengetahui jalur serta medan di hutan itu.

"Jadi dia hafal hutan tersebut. Kenapa dia bisa bertahan di sana karena dia hafal daerah tersebut. Dia juga memang adalah lulusan tentara di Tiongkok sana. Makanya dia belajar survival karena dia mantan tentara. Dia punya kemampuan bertahan hidup atau survival di dalam hutan," katanya.

Sementara itu, selain memburu Cai Changpan, Polri dan tim khusus Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia juga melakukan penyelidikan mengapa yang bersangkutan bisa membobol lapas dan apakah ada yang membantunya melarikan diri.

Pada awal penyelidikan, tim memeriksa 14 saksi di antaranya petugas jaga lapas, warga sekitar, teman satu sel, hingga istri Cai Changpan. Termasuk, menganalisa rekaman kamera pengawas atau CCTV di Lapas Tangerang. Hasil penyelidikan, penyidik menemukan sejumlah kejanggalan dalam pelarian Cai Changpan.

"Ada beberapa saksi yang kita lakukan pendalaman karena ada beberapa kejangalan-kejanggalan yang ditemukan ya," kata Yusri

Menurut keterangan saksi teman satu sel, Cai Changpan memulai aksi pelariannya dalam kurun 8 bulan untuk menggali lubang. Di sinilah muncul kejanggalan, bagaimana dalam kurun waktu yang panjang itu aksinya tidak diketahui petugas dan bagaimana dia membuang tanah galiannya.

Ternyata pelarian gembong narkoba itu diduga dibantu dua oknum petugas lapas berinisial S dan S yang belakangan telah ditetapkan sebagai tersangka. Peran kedua oknum pegawai lapas itu adalah membeli dan menyimpan alat pompa atau penyedot air yang digunakan Cai Changpan ketika menggali tanah. Mereka mendapat imbalan masing-masing Rp 100.000. Sementara, alat seperti sekop kecil dan obeng diduga diambil Cai Changpan dari lokasi pembangunan dapur di dalam penjara.

"Jadi membuat lubang ini sejak 8 bulan yang lalu. Tanahnya setiap hari dua kantong plastik, dibuang di tong sampah. Ada beberapa peralatan yang memang dia gunakan untuk melubangi tempat pelariannya, memang diameternya pertama 2 meter ke bawah, kemudian 30 meter lebih sampai ke gorong-gorong di luar dari lapas, ini seperti cangkul kecil, kemudian juga obeng, bahkan ada membeli alat penyedot air atau pompa air," ucap Yusri.

Sekitar sebulan lebih Cai Changpan bersembunyi di dalam hutan. Polisi dibantu anjing pelacak tak kunjung menemukannya. Sempat tersiar kabar kalau yang bersangkutan membawa senjata tajam bahkan senjata api sebagai bekal pelariannya.

Sabtu (17/10/2020) pagi, polisi menerima informasi dari warga kalau Cai Changpan diduga mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri, di dalam gudang bekas pabrik pembakaran ban, di kawasan hutan Jasinga, Bogor, Jawa Barat.

Cai Changpan yang mengenakan kaos warna merah-hijau, celana panjang jeans hitam dan topi hitam ditemukan tak bernyawa tergantung di satu sisi ruangan. Di sampingnya terlihat ada tangga yang posisinya miring ke kanan.

Guna memastikan penyebab kematian, jenazah Cai Changpan kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polri Raden Said Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk dilakukan autopsi. Polisi juga memeriksa sejumlah saksi di lokasi.

Salah satu saksi, penjaga keamanan setempat, mengatakan Cai Changpan sempat beberapa kali mampir dan bermalam di tempat itu pada saat pelariannya. Namun, dia diancam untuk tidak boleh bilang kepada siapa pun.



Ini Berbagai Kejanggalan Kaburnya Cai Changpan

Jumat, 2 Oktober 2020 | 22:35 WIB
Oleh : / Yudo Dahono

Jakarta, Beritasatu.com - Penyidik kepolisian menyebut terdapat sejumlah kejanggalan dalam insiden kaburnya terpidana mati kasus narkoba asal China bernama Cai Changpan dari Lapas Klas 1 Tangerang.

"Ada beberapa kejangalan-kejanggalan yang ditemukan ya, ditemukan dengan adanya pelarian saudara CP ini," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus di Mako Polda Metro Jaya, Jumat (2/10/2020).

Dijelaskan Yusri, kejanggalan yang ditemukan penyidik kepolisian antara lain tidak terdeteksinya kegiatan penggalian Cai yang berlangsung selama delapan bulan oleh petugas Lapas.

"Seperti apa kejanggalannya? Yang pertama dia sudah melakukan atau membuat lubang ini 8 bulan yang lalu, dia berupaya untuk melarikan diri," kata Yusri.

Kemudian ada sejumlah barang yang tidak lazim ditemukan di dalam lapas antara lain pompa air yang digunakan terpidana untuk menguras air didalam terowongan yang digunakan untuk melarikan diri. Selain pompa air, petugas juga turut menemukan barang seperti cangkul kecil dan obeng yang digunakan oleh terpidana untuk membuat terowongan.

"Ada beberapa peralatan yang memang dia gunakan untuk melubangi tempat pelariannya yang memang diameternya pertama 2 meter ke bawah, kemudian 30 meter lebih sampai ke gorong-gorong di luar dari lapas ini, seperti cangkul kecil kemudian juga obeng, bahkan membeli alat penyedot air atau pompa air," tambahnya.

Kemudian berdasarkan penyelidikan petugas, Yusri mengatakan ada dua oknum petugas lapas yang diduga terlibat dalam insiden pelarian Cai Changpan.

Terduga pertama diketahui berinisial S yang bertugas sebagai sipir, sedangkan satu orang lainnya juga berinisial S berstatus sebagai PNS lapas. Keduanya diduga turut membantu Cai Changpan membeli peralatan untuk membuat terowongan yang digunakan untuk kabur.

"Peran kedua duanya adalah memang diakui bahwa informasi dari salah satu napi juga, bahwa dia (oknum petugas lapas) yang membantu untuk membelikan peralatan peralatan, salah satunya adalah pompa air ini," ujar Yusri.

Penyidik kepolisian hari ini rencananya akan melaksanakan gelar perkara guna menentukan status hukum dua oknum petugas lapas tersebut.

"Kedua orang ini sementara menjadi saksi tapi rencana kita lakukan gelar perkara ya untuk menentukan apakah yang bersangkutan bisa ditentukan sebagai tersangka," pungkasnya.

Narapidana kasus narkoba Cai Changpan diketahui kabur dari Lapas Kelas 1 Tangerang pada Senin (14/9) dengan cara menggali terowongan hingga keluar Lapas. Pihak kepolisian juga telah memeriksa 14 orang saksi terkait pelarian terpidana berkebangsaan China itu.

Hasil penyelidikan awal Polda Metro Jaya mengungkapkan Cai Changpan sudah merencanakan pelariannya dengan menggali terowongan sejak enam bulan lalu.

Cai diduga mendapatkan alat-alat untuk menggali terowongan dari proyek pembangunan dapur yang sedang berlangsung di dalam Lapas Tangerang.

Polisi kemudian menerbitkan selebaran yang mencantumkan foto terakhir terpidana dan nomor telepon Satresnarkoba Polres Metro Tangerang Kota di nomor 081253178671, yang bisa dihubungi oleh masyarakat yang mempunyai informasi mengenai keberadaan Cai Changpan.



Cai Changpan Ditemukan Tewas Gantung Diri

Sabtu, 17 Oktober 2020 | 16:38 WIB
Oleh : Bayu Marhaenjati / Yudo Dahono

Jakarta, Beritasatu.com - Pelarian narapidana Cai Changpan berakhir sudah. Dia ditemukan tewas gantung diri di dalam pabrik pembakaran ban, di Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (17/10/20020) pagi tadi.

"Kita temukan meninggal dunia gantung diri. Lagi kita bawa ke RS Polri untuk autopsi," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus, Sabtu (17/10/2020).

Dikatakan Yusri, polisi menadapatkan informasi dari satpam pabrik pembakaran di kawasan hutan, di Jasinga, kalau Cai Changpan kerap bermalam di sana, tapi tidak setiap hari.

"Dia juga sempat diancam nggak boleh lapor ke siapa-siapa. Tim bergerak ke sana, gerebek tadi pagi kita temukan meninggal dunia," ungkapnya.

Sebelumnya diketahui, gembong narkotika Cai Changpang melarikan diri dengan cara menggali lantai ruang tahanan hingga tembus gorong-gorong di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Tangerang, Senin (14/9/2020) dini hari lalu.

Narapidana yang telah dijatuhi hukuman mati terkait kasus penyelundupan 135 kilogram sabu-sabu itu sempat pulang ke rumah, dan bersembunyi di dalam hutan kawasan Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.



Jenazah Cai Changpan Diautopsi di RS Polri

Sabtu, 17 Oktober 2020 | 21:34 WIB
Oleh : / Yudo Dahono

Jakarta, Beritasatu.com - Tim Forensik Rumah Sakit Polri Kramat Jati melakukan autopsi terhadap jenazah Cai Changpan alias Cai ji Fan yang ditemukan oleh petugas Kepolisian di Hutan Jasinga, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (7/10/2020) pagi.

Ambulans yang membawa jenazah tiba di Ruang Instalasi Kedokteran Forensik sekitar pukul 19.30 WIB.

Jenazah bandar sabu-sabu seberat 135 kilogram itu terbungkus kantong mayat berwarna oranye di dalam keranda besi.

Jenazah diturunkan dari ambulans oleh sejumlah petugas dari Polrestro Tangerang lalu dibawa ke ruang forensik untuk diautopsi.

Kabar pengiriman jenazah berstatus narapidana Lapas Kelas 1 Tangerang di Rumah Sakit Polri Kramat Jati disampaikan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus. "Kami bawa ke RS Polri untuk autopsi," katanya.

Yusri mengatakan proses autopsi akan membuktikan apakah narapidana warga negara Tiongkok itu tewas akibat bunuh diri atau ada faktor lain.

Kepala Forensik RS Polri Kramat Jati Dokter Arif Wahyono belum berkenan mengomentari seputar penanganan autopsi.

Mayat Cai Changpan ditemukan tewas tergantung di kawasan pabrik pembakaran ban di Hutan Jasinga, Bogor, Jawa Barat, Sabtu pagi.

Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Tangerang Nomor 385/Pid.Sus/2017, Cai Changpan dijatuhi hukuman mati karena terbukti menjalankan bisnis narkotika jenis sabu.

Namun pria yang dikabarkan memiliki keterampilan militer itu berhasil kabur dari Lapas Kelas 1 Tangerang, Banten, dengan membuat galian lubang sebagai akses melarikan diri dari sel tahanan pada Jumat 18 September 2020.




BAGIKAN




TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS