Liga 1 Tak Menentu
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

Home > Fokus > Liga 1 Tak Menentu

Menunggu Kembalinya Kompetisi

Jumat, 16 Oktober 2020 | 08:45 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang, Adi Marsiela, I Nyoman Mardika, Arnold H Sianturi / Alexander Madji

Jakarta, Beritasatu.com - Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sempat ingin menggulirkan kembali kompetisi sepakbola Liga 1 dan 2 Indonesia sejak awal Oktober lalu. Namun, rencana itu batal karena menjelang hari H, polisi tidak memberikan izin keramaian karena khawatir masih tingginya angka penyebaran Covid-19. Padahal, semua klub peserta Liga 1 dan 2 sudah melakukan persiapan. Latihan demi latihan digelar. Sayang hari yang ditunggu-tunggu pencinta sepakbola itu batal datang.

Izin keramaian yang tidak dikeluarkan polisi itu pun bagaikan godam yang menghantam kepala klub-klub sepakbola Indonesia. Sebab dengan begitu, mereka harus menarik ikat pinggang dengan lebih kencang lagi. Sejak kompetisi dihentikan, pendapatan klub nyaris tidak ada. Sementara pengeluaran tim jalan terus, paling tidak untuk gaji pemain, meski hanya 25%.

Karena itu, seluruh pemangku kepentingan sepakbola di negeri ini berharap, angka penularan Covid-19 menurun, sehingga mereka bisa kembali beraktivitas di lapangan hijau. Harapan itu disampaikan oleh Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan. Ia berharap, kompetisi bisa bergulir lagi November 2020. Kalau diundur hingga Desember, maka selesainya bisa sampai pertengahan tahun depan. Padahal jadwal 2021 akan sangat padat.

Namun, dalam rapat darurat PSSI, PT LIB, perwakilan dari tim-tim Liga 1 dan 2 di Yogyakarta, Selasa (13/10/2020) lalu, mereka sepakat bahwa sisa kompetisi musim 2020 tetap dilanjutkan. Ada tiga pilihan yaitu dimulai 1 November, 1 Desember atau 1 Januari. Hanya saja, semua itu masih sangat tergantung izin keramaian dari polisi. Hingga saat ini, polisi masih belum mengizinkan kompetisi sepakbola bergulir kembali.

Padahal klub-klub sudah tidak tahan mengikuti kompetisi karena persiapan mereka sudah berlangsung lama. “Persiapan tim tidak hanya dari teknis, tetapi juga dari non teknis. Kabar baik datang untuk Persija. Seluruh pemain dan ofisial dinyatakan negatif dari Covid-19. Hal ini membuktikan seluruh anggota tim selalu mematuhi protokol yang ada dan jangan sampai lengah. Persija berharap, situasi kembali kondusif agar kompetisi berputar. Seluruh pemain, ofisial dan juga Jakmania jangan lengah terhadap pandemi Covid-19,” kata Presiden Persija Jakarta, Mohammad Prapanca belum lama ini.

Begitu juga peserta Liga 1 lainnya, Bali United. Mereka sudah jenuh dengan tidak adanya kompetisi, sementara latihan sudah digelar sejak Agustus dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Lebih dari itu, pembatalan yang dilakukan menjelang kompetisi bergulir kembali 1 Oktober lalu sungguh menyesakkan Laskar Tridatu itu.

Pasalnya, pasukan Stefano Cugurra Teco sudah tiba di Yogyakarta menjelang laga melawan PSIS Semarang di Stadion Sultan Agung Bantul, Yogyakarta, 2 Oktober lalu. Semua barang perlengkapan tim juga sudah berada di Yogyakarta. Dengan pengumuman pembatalan, maka barang dan seluruh pemain dan staf harus pulang lagi ke Bali.

Meski demikian, CEO Bali United Yabes Tanuri Minggu (4/10/2020) menjelaskan bahwa mereka tidak mengalami kerugian terlalu besar akibat penundaan kompetisi secara tiba-tiba itu. Mereka juga menghargai dan menerima keputusan polisi tidak memberi izin keramaian demi kebaikan dan keselamatan semua pihak

“Kalau soal penundaan sih tidak terlalu banyak (kerugian). Dengan tertunda, biaya juga tertunda, setidaknya nanti masih sampai tujuannya. Ada baiknya juga dengan penundaan karena waktu persiapan makin panjang. Persiapan lebih panjang itu lebih bagus ya semoga bisa memberikan yang terbaik karena persiapan lebih matang,” kata Yabes Tanuri.

Terlepas dari itu, pelatih Stefano Cuggura Teco berharap Liga I Indonesia 2020 kembali segera digelar. Sebab, menurut dia, semua tim telah melakukan persiapan maksimal selama ini, pascaliga berhenti akibat pandemi Covid-19. “Saya optimistis, karena kita sudah sangat kerja keras di latihan. Kami menerapkan protokol kesehatan yang dijalankan semua pemain, pelatih, ofisial. Sekarang kita cuma tunggu mulai pertandingan resmi dari liga 1,” kata Teco.



Kesepakatan PSSI dan Klub Dinilai Mubazir

Jumat, 16 Oktober 2020 | 08:57 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang / Alexander Madji

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat sepakbola Akmal Marhali menilai, kesepakatan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI, PT LIB, dan klub-klub peserta Liga 1 dan 1 pada extraordinary club meeting di Yogyakarta, Selasa (13/10/2020) lalu mubazir. Pasalnya, percuma mereka menyepakati jadwal dimulai kembalinya liga, tetapi tidak mendapat izin dari kepolisian.

"Tentu ini buang-buang waktu saja. Harusnya PSSI dan LIB itu bertemu dan berdiskusi panjang dulu dengan kepolisian terkait peluang kelanjutan kompetisi ke depan bagaimana, apakah bisa dilanjutkan atau tidak. Bukannya langsung tiba-tiba mengajak rapat semua peserta klub liga dan hasilnya nihil tanpa kepastian. Lalu menyerahkan semua keputusan ada di tangan kepolisian. Ini namanya bom waktu. Kalau seperti ini jadinya kasihan pihak klub yang harus mewajibkan mengaji para pemain dengan berandai-andai digelar 1 November. Lalu bila tak bisa dilanjutkan pada bulan berikutnya dan seterusnya," jelas Akmal ketika dihubungi di Jakarta, Kamis (15/10/2020).

Ia menyarankan, PSSI dan LIB fokus bagaimana mempersiapkan Liga sepakbola musim depan 2021 dengan protokol kesehatan dan menunggu pandemi mereda, bukannya ngotot ingin menggelar kelanjutan liga musim 2020 dengan ketidakpastian.

Pada pertemuan Selasa lalu itu, baik PSSI, PT Liga Indonesia Baru (LIB), maupun klub-klub peserta Liga 1 dan Liga 2 sepakat melanjutkan kompetisi sepakbola Indonesia dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Ada tiga opsi yang disiapkan yaitu kompetisi dimulai 1 November 2020, 1 Desember 2020, dan 1 Januari 2021.

“Intinya kompetisi lanjutan musim 2020 ini akan diteruskan. Apakah mulai 1 November, 1 Desember atau 1 Januari 2021,” ujar pelaksana tugas Sekjen PSSI, Yunus Nusi.

Menurut pria yang juga anggota Komite Eksekutif PSSI tersebut, Dari tiga rencana tersebut, kompetisi yang dimulai pada 1 November menjadi opsi utama. Andai itu yang terjadi, format liga di Liga 1 bisa dipertahankan karena kompetisi masih bisa selesai Maret 2021. “Namun, soal izin kita kembalikan ke kepolisian. Jika kepolisian tidak mengizinkan tentu PSSI akan menghormati dan mematuhinya,” tambah Yunus.

Jika bergeser ke Januari 2021, format liga kemungkinan berubah karena PSSI dan LIB tidak mau ada pertandingan selama bulan puasa yang jatuh pada April 2021. Selain itu, Indonesia juga bersiap menuju Piala Dunia U-20 yang dimulai 20 Mei 2021.

Lanjutan Liga 1 musim 2020 awalnya dijadwalkan berlangsung pada 1 Oktober 2020 hingga 28 Februari 2021, sementara Liga 2 direncanakan bergulir pada 17 Oktober-5 Desember. Namun, rencana itu urung dilaksanakan karena tidak mendapat izin keramaian dari kepolisian. Untuk rencana liga 1 November 2020, hingga kini juga belum mendapat izin keramaian dari kepolisian.

Sementara itu Presiden Persija, Mohamad Prapanca menyatakan, klubnya telah siap seandainya kompetisi kembali diputar. Sejauh ini Macan Kemayoran tidak terpengaruh terkait diundurnya liga. Mereka terus menggelar latihan, meskipun ada variasi dan perubahan program agar ritme dan kondisi pemain tetap terjaga.

“Persija sejatinya terus melakukan persiapan dan tidak mengurangi tensi latihan sedikit pun. Diundurnya liga membuat tim pelatih memutuskan untuk melakukan variasi program latihan, agar ritme dan kondisi pemain tetap dalam form terbaik, baik secara teknis maupun psikologis. Hal ini sebagai bentuk komitmen seluruh pemain dan ofisial untuk menghadapi kompetisi 2020,” ungkap Prapanca pada keterangan resmi, Kamis (15/10/2020).



Perjuangan Klub-klub Melawan Badai

Jumat, 16 Oktober 2020 | 08:32 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang, Adi Marsiela, I Nyoman Mardika, Arnold H Sianturi / Alexander Madji

Jakarta, Beritasatu.com - Tiga pekan lalu, Kepolisian Republik Indonesia tidak mengeluarkan izin keramaian untuk kembali bergulirnya kompetisi sepakbola tertinggi di Indonesia, Liga 1 dan 2 mulai 1 Oktober 2020. Alasannya, karena pandemi virus corona belum terkendali. Keputusan ini diambil untuk keselamatan semua pihak, seluruh pemangku kepentingan sepakbola mulai dari pemain, pelatih dan staf, hingga pendukung.

Keputusan itu pada saat bersamaan menjadi pukulan telak untuk semua klub. Ketika Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) membuka peluang bergulir kembalinya kompetisi musim 2020, tanda-tanda kehidupan pun muncul. Sebab dengan kompetisi bergulir, roda perekonomian di sektor sepakbola bergulir kembali. Meskipun tidak akan optimal karena seluruh pertandingan tidak dihadiri penonton. Minimal klub mulai memiliki penghasilan terutama dari pihak sponsor.

Sejak pandemi Covid-19 menghantam pada Maret silam yang diikuti berhentinya kompetisi, pendapatan klub macet total. Tidak ada lagi pemasukan dari penjualan tiket dan sponsor. Sementara sepanjang pandemi yang sudah berlangsung tujuh bulan, pengeluaran jalan terus. Di luar stadion, roda ekonomi sektor usaha kecil juga tidak berjalan.

Semua klub merasakan kencangnya hempasan gelombang akibat pandemi Covid-19. Meski demikian, mereka terus bertahan dengan seluruh tenaga yang tersisa agar tidak terhempas dan bertahan di tengah badai. Dalam situasi seperti ini mereka juga dituntut membentuk tim terbaik untuk merebut gelar juara sambil menjaga agar pemasukan klub tetap ada.

Persija Jakarta, misalnya, saat ini masih terus berusaha membentuk tim terbaik agar bisa bersaing pada lanjutan Liga 1 2020. Namun, mereka harus merancang ulang dari awal seiring datangnya pandemi. Itu salah satu cara untuk bisa bertahan. Presiden Persija Jakarta, Mohamad Prapanca, harus memeras otak agar klub Ibu Kota bisa bertahan dan tetap berdiri tegak di tengah badai.

“Sebenarnya tidak ada masalah. Tidak ada satu kendala apabila pandemi ini tidak datang. Tetapi pandemi ini datang, semua seperti restart. Karena apa? Teknik konvesional ini tidak ada yang jalan. Orang A, B, C, D bisa ngomong, tetapi kami yang menjalankan di dalam, dengan segala kemampuan kami,” ucap Prapanca pada Youtube Persija Jakarta dan dikonfirmasi ulang pada Kamis (1/10/2020) lalu.

Ia mencontohkan, untuk sponsor, manajemen Persija harus melakukan negosiasi ulang. Sementara pendapatan dari tiket, semua hilang karena tidak adanya pertandingan yang digelar. “Padahal itu (tiket) 30% pendapatan kami. Yang semua orang harus tahu, 40-50% pendapatan kami itu dari sponsor, 30-40% tiket, sementara merchandise terbilang kecil sekali yakni hanya 15%,” jelasnya.

Oleh karena itu, kondisi pandemi begini membuat manajemen Macan Kemayoran, julukan Persija, terpaksa melakukan negosiasi ulang ke berbagai pihak. “Persen lainnya itu premium branding, yang di Indonesia belum terbiasa. Terbayang tidak, dengan skuat dream team yang kami bangun, tiba-tiba Covid, tiba-tiba semua harus turun. Apa yang harus kami pertimbangkan? Inilah yang kami lakukan, renegosiasi dengan standar federasi. Tentunya tidak asal-asalan. Kalau tidak, semua klub bangkrut hari ini. Kami berusaha bertahan,” ungkapnya.

Namun ketika ditanyakan besaran pengeluaran saat bertanding baik kandang maupun tandang serta pemasukan dan pengeluaran per bulan, Prapanca menolak menjawabnya dengan halus karena itu rahasia perusahaan. “Wah maaf ya, kalau untuk urusan itu menjadi rahasia perusahaan,” ujarnya singkat.

Sebelumnya, Direktur Olahraga Persija, Ferry Paulus menyatakan beberapa bulan terakhir saat pandemi, pihaknya memotong 75% gaji para pemain, ofisial dan staf pelatih, setelah isi Surat Keputusan (SK) PSSI. “Kalau mencermati SK PSSI yang terakhir, berarti gajinya tetap ikut SKEP48 terdahulu, yakni gaji maksimal 25%,” kata Ferry Paulus.

Dalam SK sebelumnya PSSI memang mengizinkan klub membayar maksimal gaji 25% dari total nilai kontrak sejak Maret hingga Juni karena kompetisi dihentikan dengan status keadaan kahar.

Persib
Tim elite Liga 1 lainnya yang juga rival abadi Persija Jakarta, Persib Bandung, mengambil langkah serupa. PT Persib Bandung Bermartabat, badan hukum yang mengelola klub profesional Persib Bandung, terpaksa melakukan efisiensi. Tim yang berusaha mendapatkan pemasukan dari tiket pertandingan ini terpaksa memangkas gaji pemain. “Kita mengikuti SKEP PSSI,” kata Direktur PT PBB, Teddy Tjahjono secara terpisah.

Dalam SKEP/53/VI/2020 tentang kelanjutan kompetisi dalam keadaan biasa pada 27 Juni 2020 yang diterbitkan PSSI antara lain disebutkan, klub diperkenankan memotong gaji pemain dan pelatih hingga 50% dari nilai yang disepakati awal. Pemangkasan gaji itu juga dibarengi dengan komunikasi intens dengan para sponsor yang jumlahnya 14 perusahaan. “Kami jelaskan kepada mereka terkait situasi yang terjadi,” ujarnya lagi.

Para mitra itu berasal dari beragam sektor. Ada perusahaan makanan, perbankan, minuman, operator telekomunikasi, hingga industri apparel. Selain berkomunikasi, Teddy mengakui, pihaknya juga terus menerus mempublikasikan aktivitas Persib serta para pemainnya lewat berbagai platform digital. “Supaya tetap ada engagement dengan partner-partner kami,” terang dia.

PSMS Medan juga tidak kalah bekerja keras agar bisa bertahan di tengah pandemi. Namun cara mereka beda dengan Persija dan Persib yang jumlah sponsornya berjibun. Mereka mengandalkan dana kompensasi tambahan dari PT Liga Indonesia Baru (LIB) untuk menutupi pengeluaran klub sebagai yang utama. Mereka juga terus mencari cara lain agar bisa menutup argo pengeluaran yang terus berjalan, tanpa menyebut spesifik cara yang ditempuh.

“Dana subsidi itu belum bisa menutupi kerugian finansial, sehingga kita mencari langkah lain agar PSMS ini tetap bisa bertahan di tengah pandemi dan mengikuti Liga 1 dan 2, yang direncanakan November 2020,” ujar manajer PSMS Medan, Mulyadi Simatupang, Minggu (4/10/2020) silam.

Apa pun upaya setiap klub diharapkan membuahkan hasil, sehingga mereka tetap bisa berdiri tegak di tengah badai. Pada saat bersamaan, pandemi Covid-19 ini diharapkan segera mereda dan kepolisian bisa menerbitkan surat izin keramaian. Dengan demikian, sebagaimana diharapkan Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, kompetisi sepakbola Indonesia bisa bergulir kembali bulan depan. Dengan begitu pula roda ekonomi di sektor sepakbola mulai pelan-pelan bergulir, sambil menunggu penonton diizinkan kembali ke stadion. Sebab hanya dengan kompetisi dan hadirnya penonton di stadion, klub-klub bisa keluar dari badai ini.




BAGIKAN




TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS